Wednesday, September 4, 2013

APAKAH KAU MELIHAT LANGIT MENTARI SENJA?

Sebagai ABG paling biasa di sekolahnya Serena atau kalian panggil saja cewek mungil tapi mengira dirinya imut itu Rena.Sebenarnya taka da yang istimewa darinya.Dia bukan penderita jomblo menahun juga bukan cewek yang suka gonta-ganti pacar.Akademik?Biasa saja.Dia bukan tidak pintar juga bukan tidak bodoh. Tapi yang membuat dia tidak biasa adalah Rena satu-satunya cewek yang bisa dekat samaKevin.

5 MENIT

Aku lagi sama becak dan awul. entah kenapa dua orang itu meraasa menjadi freak. pintunya tertutup. aku nggak tahu harus ngapain lagi. sekarang becak di belakangku dan awul menuju kemari, lalu awul mengarahkan wajahnya ke AC. lalu duduk manis di sampingku. tidak tahu kenapa aku menuliskan ini. sekarang dua orang freak itu berpegangan tangan. ternyata mereka lagi panco. sekarang aku nggak tahu harus ngapain? lalu becak berkata"Aku metani rambutnya awul."

aneh banget kan situasi diatas, dengan penulis yang notabene juga aneh. sekarang kami membicarakan soal unas, bocoran unas yang biasanya dimiliki lembaga belajar tertentu. sekarang kami  membicarakan kuliah. tiba-tiba bayu mang datang sama rijalul. lalu mereka pergi. itu gambaran yang bisa akui berikan dalam 5 menit ini. 

Thursday, August 15, 2013

Adelaide's Love Story



Orang tua adalah alarm terbaik di dunia untuk anak. Aku bersyukur kebiasaan bangun kesiangan jadi terselamatkan berkat Mama yang selalu berteriak di kupingku dan Papa yang menyiramkan air ke wajahku. Itu sangat menjengkelkan tapi berharga. Sekarang di sini aku di Adelaide terdampar bersama beberapa mahasiswi di apartement kecil. Namaku Rena, bukan Rena Nozawa JKT48 bukan dia. Lagi pula aku tak secantik dia. Sekarang tanpa alarm itu aku selalu bangun kesiangan. Dan sering terlambat masuk kelas. Entah itu kelasnya Mr. Jackson bule gendut berotak mesum atau Mrs Jenny. Yang satu mesum yang satu killer.
Hari ini jam 10 aku ada kelas dengan Mrs Jenny killer. Dan sialnya aku bangun jam setengah 10 lebih. Aku langsung mandi(di si i sedang musim panas, kalau tidak mandi aku berkeringat) secepat aku bisa dan mengejar bis. Untunglah bis datang ketika aku tiba di halte. Butuh 10 menit ke kampus. Aku langsung berlari ketika bis menurunkanku. Kulihat Mrs Jenny sedang berjalan ke lorong menuju kelas. Aku langsung mencari jalan tersepat di kelas. Aku berhasil tiba di kelas 15 detik sebelum Jenny Killer tiba.
''Dari mana aja loe?'' Mario teman dari Jakarta.
''Rumah, gue kesiangan.''
''Dasar kebo.'' Erla menyahuti perkataanku. Kami tiga orang mahasiswa+i adalah rekan yang solid di kampus. Kami terkenal orang Indonesia yang jahil. Jenny killer menatap kelas dengan tajam. Kupingnya terlalu sensitif mendengar obrolan kami. Pelajaran matematika berjalan sangat lambat. Aku hampir tertidur ketika Jenny killer mengakhiri pidato matematikanya.
Aku berjalan keluar dengan malas.
Brukk.
''Ah. Jalan gak pake mata ini orang.'' untungnya aku pakai bahasa sendiri. Jadi orang yang menabrakku tidak mengerti.
''Maaf, aku nggak lihat kamu.'' pura-puranya ini bahasa inggris.
''Nggak apa-apa. Aku juga salah jalannya nunduk.'' aku melihatnya. Ya ampun dia kan, Daren. Cowok yang aku lirik ketika mendarat di tempat ini. Cowok paling cakep dan keren. Meskipun banyak bule di sini, Daren yang paling wow.
''Kamu nggak apa-apa?'' ia melihatku dengan was-was.
''Ya tentu saja.'' aku bangkit berdiri dan sialnya aku terpleset.
''Kamu tidak baik-baik saja.'' ia tertawa kemudian membantuku berdiri.
''Ya reflekku memang buruk.'' aku mengakuinya.
''Kau aneh.'' ia terkekeh. Orang kusukai mengataiku aneh. Sulit dipercaya.
''Aku? Oh, memang.''
''Bukan. Bukan itu maksudku. Bagaimana kalau kita pergi makan siang?''
''Makan siang?''
''Ya. Kenapa?''
''Tidak apa-apa.''
''Kalau begitu setelah kelas Mrs Montera.''
''Tunggu, bagaimana kau tahu aku ada kelasnya Montera sebentar lagi?''
''Apa kau lupa? Untuk pelajaran ini kita sekelas.'' ia tertawa.
''Uhm, aku lupa. Kurasa aku benar-benar kacau hari ini.''
 Aku mengucapkan ''Sampai ketemu'' bukannya ''selamat tinggal''. Menuju kafetaria kampis ini. Mario dan Erla sedang duduk menikmati minuman mereka.
''Hey Rena, kau tahu David si bule pesek itu?''
''Ya, kenapa dengannya?''
''Mario mengjarinya bahasa kita. David tanya apa bahasa indonesia untuk 'saya tampan' dan sama Mario dijawab: 'Hidungmu pesek'.'' ia terpingkal-pingkal.
''Oh kalian gila. Apakah dia mengulang-ngulangnya di kampus?'' aku menduga bule dungu itu pasti melakukannya.
''Tentu saja. Memang yang lain banyak yang tidak tahu, tapi rata-rata orang indonesia dan malaysia tertawa.'' Mario memegangi perutnya. Oh iya kalau boleh kuceritakan Mario ini bertampang lumayan untuk ukuran luar negeri(tapi dia tulen jawa nyamar betawi gaul) dan terlalu tinggi membuatku iri dan juga macho. Dan si Erla ini, cewek bohai se kebun binatang Ragunan. Berwajah imut ala cewek oriental (baca: oriental bento). Tapi dia yang paling cantik diantara (aku dan Erla saja). Kelas Montera sebentar lagi mulai. Aku bergegas membereskan bukuku di meja kafetaria.
''Loe habis gini kelasnya Montera?'' Mario menandaskan limunnya.
''Ya. Kenapa?''
''Bareng, gue juga ada kelasnya.''
''Ayo cepetan. Kamu nggak?'' aku menatap Erla yang sedang asyik memainkan HPnya.
''Nggak, habis ini nggak ada kelas.''
''Ya udah kita duluan.'' Mario menarik lenganku agar aku jalan duluan.
Aku melihat Daren melambaikan tangan dan tersenyum manis. Aku balas tersenyum dan mengambil tempat di sebelahnya. Tak menghiraukan Mario.
''Loe sama dia sekarang, Rena?''
''Nggak juga, aku barusan jadi lebih dekat aja.'' aku menoleh ke belakang tersenyim pada Mario yang menatapku dengan pandangan sinis. ''Kenapa?''
''Nggak. Tuh si Montera masuk.'' Aku mengabaikan Mario dan menatap Daren.
''Apa yang kalian bicarakan?'' ia mentapku dengan pandangan yang menyelidik dan tidak suka kelihatannya dengan Mario.
''Nggak, hanya tentang beberapa masalahnya dan Erla.'' aku berbohong. Kelas di mulai dan Montera tak membiarkan kami sibuk atau mengobrol sendiri.
***
Daren mengajakku ke restoran Italy di Adelaide. Lumayan makan mewah gratis. Setiap hari makan di ChinaTown lama-lama bosan juga. Daren membawa mobil ke sekolah.
''Kau suka makanan di sini?'' ia tersenyum lembut.
''Tentu saja. Kau tahu, sebagai orang Indonesia aku harus berhemat di sini jadi setiap hari aku makan makanan China. Walaupun rasanya lumayan tapi bosan juga ketika lidahku menyentuh makanan lain.'' ia tertawa menfetahui 'ke-kere-anku'. Daren bercerita banyak. Mulai dari pacar-pacarnya. Sebgai bule free sex dianutnya. Tapi ia bilang ia bukan tipe 'maniak seks' aku  sih nggak begitu bermasalah. Ia juga bercerita tentang keluarganya yang pengusaha apa aku tidak mengerti bidangnya. Yang pasti ada hubungannya dengan software. Wow, pasti dia kaya sekali. Salah maksudnya orang tuanya. Tapi bukan itu yang membuat aku tertarik dengan Daren. Dahulu kala, ketika aku baru masuk ke kampus. Aku melihat seorang yang tampan dan baik hati. Ia membantu seorang cewek yang diganggu beberapa penguntit. Dan tersenyum pada semua orang. Hanya saja aku tidak berani menyapanya duluan.
Daren mengantarku ke apartemen sore harinya. Aku melambaikan tangan. Aku tersenyum sendiri. Menyadari betapa indah hari ini. Dari kejauhan tampak Mario berjalan pelan. Ketika ia tahu aku sedang melihat ya ia mempercepat langkahnya dan menghampiriku. Aku melambaikan tangan.
''Woi ngapain kamu di situ?'' aku baru sadar tubuhnya berkeringat, menambah kesan macho untuk Mario. Dia terlihat lebih ganteng. Apa yang kupikirkan?
''Darimana saja, loe?'' ia mentapku dengan pandangan marah dan menuduh.
''Kencan, mungkin Pdkt. Kenapa?''
''Aku serius. Kau boleh kencan dengan siapa saja. Tapi nggak dengan brengsek itu.'' tumben bahasanya normal.
''Dia baik. Dan apa urusanmu?''
''Gue sahabat loe, dari kecil. Loe idah kayak.''
''Oke-oke aku tahu. Tapi tolong, ini urusanku.'' aku menghela nafas. ''Kau dari mana?''
''Lari sore.'' ia menjawab dengan cuek.
''Lari sore? Dengan kemeja dan jeans?''
''Urusanku.'' kemudian ia masuk ke dalam gedung. Aku satu apartemen dengan Erla, sementara Mario sendirian, apartemennya di sebelahku. Tapi kadang ia memperbaiki beberapa peralatan di rumah dan sebagau gantinya aku embersihkan apartemennya jika waktu senggang.
''Hai.''
''Dari mana?''
''Kencan dengan Daren Spark.''
''Bule tajir itu?''
''Iya.'' aku tersenyum. Kemudian HPku bergetar. Nomor tak di kenal. ''Halo?''
''Halo, Rena. Ini Daren.''
''Oh Daren, ada apa? Dari mana kau tahu nomor ponselku?''
''Rahasia. Oh iya aku, mengajakmu berkencan. Well, mungkin yang tadi juga. Tapi ini secara resmi.'' ia terkekeh pelan. Daren. Mengajakku. Kencan. Itu luar biasa. ''Rena. Halo Rena?''
''Oh maafkan aki, aku hanya sedikit terkejut.''
''Tidak apa-apa. Sabtu malam jam 7, berdandanlah yang cantik karena restoran perancis menunggu kita.''
''Baiklah, Sabtu malam.''
''Ngomong-ngomong, apakah kau menyukaiku?'' apa dia bilang?
''Aku eh.. Entahlah.''
''Kalau aku, aku menyukaimu Rena. Sudah ya, selamat malam.'' ia menutup teleponnya. Aku masih terpaku di tempat.
''Heii.. Kenapa Miss Baby?'' aku kaget sekali.
''Sialan, aku kaget tahu. Erla, bule itu..''
''Siapa?''
''Dia..''
''Daren?''
''Ya.''
''Kenapa? Dia mengajakmu kencan?''
''Bukan hanya itu, dia..''
''Dia apa?''
''Dia bilang..''
''Bilang apa?'' Erla terlihat mulai jengkel.
''Ia menyukaiku.''
''Apa??????? Selamat Rena.'' ia memelukku. Aku masih terpaku di tempat. Kemudian sedtik berikutnya kami sudah melompat-lompat seperti orang gila. ''Kita harus mencarikan baju yang tepat untukmu.''
''Tidak bisakah besok saja? Kan masih besok malam?''
''Kalau begitu kau tahu ini saatnya untuk apa?'' oh tentu saja aku tahu.
***
aku dan Erla melakukan waktu cewek kami. Manicure padicure, lulur, masker, creambath di apartemen. Mencukur bulu kaki, well Erla yang melakukannya karena aku tidak punya. Kulitku tidak seputih Erla, tapi kuning langsat. Sabtu sore kami sibuk memilih pakaian yang cocok untukku.
''Yang ini saja, Rena.'' ia menunjukkan dress pink selutut.
''Tidak terlalu feminim dan jika aku pakai membuatku terlihat kecil.''
''Bagaimana kalau yang ini?'' ia mengambil sebuah dress dari kain batik. Mewah meskipun sederhana. Berpotongan ''O'' di lehernya dan sedikit kesan lucu dengan pita di pinggangnya.
''Sempurna.''
***
''Kau terlihat cantik.'' ia memujiku. Pipiku merona merah.
Restorannya mewah sekali. Terletak di tengah kota. Sementara Daren terlihat luar biasa tampan. Aku cerdas, aku menvari nama makanan perancis di internet agar tidak salah pilih. Ia mengatakan kalau ia mencintaiku dan aku belum tahu harus bilang apa.
''Setelah ini aku ingin mengajakkmu ke suatu tempat.''
''Kemana?''
''Rahasia, ini romantis yang pasti.'' ia tersenyum.
Kemudian ia mengemudikan mobilnya agak cepat. Sebenarnya mau kemana?
Ternyata ke taman di pinggiran kota. Kalau malam taman ini sepi sekali. Aku tahu di sini muda-mudi adelaide sering bercinta. Tapi tidak mungkin kan kalau?
Ia mengehntikan mobilnya. ''Rena.'' ia mengelus pipiku dan tanpa di duga ia sudah melumat bibirku. Ini salah. Aku mencoba meronta tapi tubuhnya terlalu besar tak kuaaa untuk melawannya. Aku ingin berteriak. Tapi keputusan salah. aku ketakutan. aku mendorongnya tapi tangannya mencengkeramku. ''Diamlah.'' ia membekapku kemudian menurunkan kursi hingga ia menindihku. ''Percuma kau berteriak tak seorangpun di sini.''
 ia membuka gaunku. Aku mencegah tangannya. ''Jangan Daren. Kumohon.'' ia tidak peduli. Ia menciumku lagi. Aku menggeleng sekuat tenaga. Ketika ia berhasil merobek bajuku terdengar suara keras.
''Lepaskan dia,  brengsek sialan.''
''Oh pengawal kita datang. Ia membuka pintu mobil dan kulihat kedua lelaki itu sedang bergulat. Aku segera membenarkan bajuku, menutupi dadaku dengan tasku.
Kulihat Mario lebih unggul. Dan Daren tidak berdaya. Ia menyerah dan melemparkan tatapan jijik padaku. Kemudian pergi menghilang di kegelapan.
''Rena.. Rena. Kau tidak apa-apa?'' Mario berlari menghampiriku. Pelipisnya lebam. Aku menagis sekuatku melampiaskan rasa takut, terhina, dan marah. Ia memelukku meminjamkan dadanya padaku. Aku tidak sanggup menangis keras karena tenagaku seolah habis. Daren yang sempurna ternyata tak lebih dari bajingan tukang perkosa. Aku terisak sekarang. Mario melihat bajuku yang sudah robek di depan. Aku mentupinya dengan tangan. Tak kusangka ia membuka kemejanya dan memakaikannya kepadku. Tak peduli dengan dadaku yang terbuka. Ia mengusap air mataku tanpa bicara menggendongku di punggungnya. Ia membawaku ke halte bus terdekat. Kami menunggu, bis.
''@maafkan aku. Menghiraukanmu. Aku bodoh sekali.''
''Bukan salahmu. Siapa yang tidak terpesona oleh si brengsek itu?''
''Terima kasih, Mario.'' aku memejamkan mataku air mata sakit hati masih mengaliriku.
''Bisnya sudah datang.'' ia menggendongku di punggunya lagi. Supir bis terkejut melihat Mario setengah telanjang dan aku di punggungnya. Tanpa banyak bicara Mario memilih sudut.
***
kami masih harus berjalan ke Apartement. Aku tidak tertidur. Aku hanya terisak di punggungnya yang hangat. ''Dia menciumku.''
''Brengsek, seharunya aku remukkan giginya.''
''Aku sangat.. Tidak berarti.''
''Kau berarti untukku. Dan jika kau berpikir itu ciuman pertamamu. Kau salah.''
''Apa?'' tidak mungkin.
''Aku menciummu saat kau tertidur di bawah pohon, ketika masih SMA. Maafkan aku.''
''Tidak apa-apa. Aku lebih senang sekarang.''
''Aku mencintaimu. Tapi aku terlalu pengecut.''
''Maafkan aku, tidak menyadarinya.'' aku mepererat pelukanku. ''Aku malah.. Aku malah..'' aku kembali menangis.
''Sst.. Yang penting kau aman di sini bersamaku.''
''Aku mencintaimu.''
''Aku lebih mencintaimu, Rena sayang.'' kami berjalan sampai apartemen.
***
''Rena, semua barangmu sudah siap?'' Mario berteriak di depan pintu. Hari ini kami akan kembali ke Indonesia. Sebulan yang lalu semua urusan administrasi sudah selesai kami sudah lulus. Dan Mario lulus dengan cum laude.
''Ya, bantu aku mengangkatnya.'' Erla sudah pulang mendahului kami.
Setelah kejadian mengerikan bersama Daren aku pacaran dengan Mario. Ia menjagaku. Dan apabila ia bertemu Daren ia melemparkan tatapan mebunuh yang membuat Daren mengkeret. Dan aku masih jijik melihatnya.
Satu hal. Terkadang aku tidak bersyukur dan kurang melihat di sekitarku. Aku punya cowok sebaik Mario tapi aku malah katuh cinta pada laki-laki mesum. Tolol sekali. Aku sudah memiliki Mario jauh sebelum aku menyadarinya. Dan aku mencintainya jauh sebelum aku sadar. Tapi aku diberi kesemptan besar bersama Marioku. Ia menciumku ketika kami sedang berada di bandara. Takutnya nanti kalau di Indonesia kami digebukin orang sekampung. Mario bilang ia langsung ingin ke rumahku. Katanya ada sesuatu. Ternyata ia melamarku di depan Papa dan Mama. Aku sangat bahagia. Dan petualangan lain bersama Mario baru di mulai.

Wednesday, July 31, 2013

PROLOG -Silent Words-



Leana:
Aku tidak pernah ingat apa-apa. Yang ku ingat hanyalah aku sudah ada di panti asuhan ini sejak pertama aku mendapat ingatanku. Orang-orang menganggapku aneh. Karena aku tidak mau bicara pada siapapun. Mereka semua memandangku kadang dengan tatapan kasihan, kadang ketakutan. Entah kenapa. padahal aku hanya tidak ingin bicara dengan mereka.