Saturday, January 26, 2013

Cinta Biasa Part4

Vanessa nggak percaya sama hal yang barusan dia alamin. Bayangin aja, pulang bareng sama Arqi gitu loh...
Setelah mandi, dia sholat ashar. Lalu menyalakan komputer dan mulai blogging. Ini sudah jadi hobinya sejak dulu dia mengenal dunia Blog. Baginya ini ajang menyalurkan keinginannya dalam bentuk postingan. Hari itu dia menuliskan isi hatinya di Blog.

andai mentari bisa berisyarat..
mungkin engkau akan melihat betapa aku..
andai bulan bisa membisikkan..
mungkin engkau akan tersadar bahwa aku..
jikalau gelapa menghalangi semua itu...
maka engkau tak akan mampu tahu...
tahu bahwa aku mencintaimu....



Puisi singkat, tetapi itulah isi hatinya saat ini. Mencintai Arqi adalah hal yang tertutup mendung. Tak mungkin dia harus mengungkapkan rasa cintanya pada Arqi, bukan karena gengsi. Tapi lebih karena dia nggak mau membuat harapannya ke Arqi jadi hancur berantakan karena jelas Arqi tidak punya perasaan cinta yang sama untuknya.
Perlahan Vanessa mendekati jendela kamarnya, dia duduk di bingkai jendela berwarna hitam eboni. Dia nggak pernah pacaran sekalipun selama 17 tahun terakhir. Setiap ada cowok yang mendekat, dia pasti mundur secara perlahan. Sehingga sampai saat ini jarang ada cowok yang punya perasaan lebih ke Vanessa, bukan karena fisik atau sifat yang jelek. Secara fisik dia cewek yang nggak terlalu cantik atau terlalu jelek, hanya saja wajahnya innocent sekali. Tanpa dosa. Dia juga mudah bergaul. Tapi karena dia menutup hatinya untuk cowok manapun kecuali Arqi Itulah yang menjadi penyebab dia JOMBLO FOREVER 17 tahun terakhir. Tanpa Vanessa sadari, dari seberang jendela yang jaraknya cuma 3 meter. Arqi sedang memandanginya.

###################@############################


Entah sejak kapan Arqi suka sekali dengan Vanessa. Pernah dia pacaran dengan beberapa orang cewek di universitas negeri tempat dia menimba ilmu  Pendidikan Bahasa Jerman. Tapi selalu putus karena alasan umum yang biasanya cewek gunakan untuk mengakhiri hubungan. Tapi selama itu pikirannya tidak pernah jauh dari Vanessa. Entah kenapa anak itu selalu ada di hati Arqi. Bukannya playboy, tapi Arqi memang tidak pernah selingkuh. Meskipun dia sayang sama mantannya dulu(itu dulu sekarang nggak sayang lho) tapi emang hatinya sudah berurat akar Vanessa. Hari itu Arqi sedikit melepas rindunya. Sudah hampir 3 tahun dia nngak ketemu cewek innocent itu. 
"Gott, ich vermisse sie(Tuhan, Aku merindukannya)" Arqi bicara sendiri sambil mengusap rambutnya.
Dia tiba-tiba teringat sama teman Vanessa yang bernama Haris. Sialan, beruntung banget itu cowok. Sepertinya dia suka sama Vanessa, temen-temennya aja juga menunjukkan tanda-tanda kalau Haris suka sama Vanessa. Akhirnya dia cabut ke rumah Vanessa. Jaraknya cuma 5 langkah. Dia mengetuk pintu rumah itu. Yang membukakan ibu Vanessa atau di Kompleks Mahameru lebih dikenal sebagai Bu Diah.
"Assalmualaikum, " Arqi memberi salam kepada si empunya rumah.
"Waalaikumsalam, lho Arqi. Lama ndak ketemu, sudah lulus kuliah?" Bu Dyah mempersilahkan Arqi masuk.
"Belum,ini masih PPL di sekolahnya Vanessa. " jelas Arqi sambil senyum-senyum. Dia betah kalau main ke sini, soalnya di rumah ini ada halaman belakang yang cukup luas. Biasanya dia, Ferdy, dan Vanessa main di sini. Kalau cuaca lagi panas mereka suka renang di kolam renang plastik. Ayah  Ferdy akan memompakan kolam renang plastik supaya bisa mereka nikmati. Tapi itu sudah lama sekali pikir Arqi. Dan dia ingin mengulang semua itu. WOW.
"Oh, mau ketemu Ferdy ya? Wah masih belum pulang." jelas Bu Dyah.
"Wah, sayang sekali. Tapi, mboten nopo-nopo ,kok , Bu lik." ujar Arqi sambil tersenyum.
"Ya sudah kamu main saja di belakang, Vanessa nggak tahu lagi ngapain. Bu lik mau menggoreng pisang. Nanti kalau pulang sekalian titip buat Ibu mu ." ujar Bu Dyah sambil berjalan ke arah pintu dapur dan menghilang di balik kelambu warna hijau toska.
Arqi menuju halaman belakang. Halaman itu masih seperti dulu, hanya saja mainan masa kecil Ferdy dan Vanessa. Hanya ayunan tua dari ban yang masih menggantung di pohon beringin di sudut halaman ini. Arqi duduk di ayunan itu. Mengenang masa kecilnya di sini. Dari sini rumahnya yang tingkat 2 terlihat jelas kamar Arqi.
Tak sadar sepasang mata berwarna cokelat mengamatinya dari pintu belakang. Arqi mengarahkan pandangannya ke pintu, ada Vanessa disana memakai kaos olahraga SMP (iya Arqi tahu itu kaos olahraga smp karena ada tulisan: SMPN 2 Kota Mojokerto) dan celana pendek warna abu-abu. 
"Dari tadi kamu di situ?"ujar Arqi. Tatapannya tajam menyelidik.
"Barusan kok." Vanessa melangkah perlahan ke ayunan tua yang sedang Arqi duduki.
"Kamu kelas apa? Kok aku nggak pernah nemuin kamu di kelas yang aku masuki hari ini?
"XI IPS 1, kelasnya pojok sendiri. Yang terpencil itu lho, Mas."
"Wah, kayaknya aku bakal ngajar di kelas mu deh."
"Beneran , Mas?" ujar Vanessa, matanya membulat saking senangnya.
"Iya, katanya kalau di sekolahmu, Bahasa Jerman cuma di IPS?"
"Iya, wah senengnya ada guru PPL tetangga sendiri."
"Biasa aja kali, tapi emang sih pasti kamu seneng. Apalagi  guru PPL nya seperti Tom Cruise?" 
"Ya, PD amat loe, Mas? " Vanessa menjitak kepala Arqi lembut.
"Hahaha. Emang kenyataan aku mirip aktor ganteng kok?"
Mereka bercanda sampai tak terasa Bu Dyah memanggil mereka karena matahari sudah terbenam.
"Ayo masuk, sudah hampir maghrib."
'Iya, Ma."
Akhirnya mereka masuk ke dalam rumah. Ibu Vanessa membawa sepiring pisang goreng untuk Arqi.
"Ini pisang goreng buat keluarga di rumah. Bu Lik titip ya?"
"Iya. Terima kasih. Saya pulang dulu , Bu Lik. "
Arqi pulang ke rumahnya sambil berdendang. 
"Ma. Ada titipan dari ibunya Ferdy."
"Iya , taruh di lemari makanan. Mama lagi sibuk."
Perut Arqi keroncongan gara-gara mencium aroma pisang goreng buatan ibu Vanessa. Diambilnya sepotong pisang goreng lalu ia duduk di kursi di meja makan yang berbentuk bundar. Dia baru sadar kalau dia sedang kelaparan karena sudah 4 potong pisang goreng yang sudah dia habiskan. 
Ibu Arqi yang sudah selesai dengan pekerjaannya pergi ke dapur. Digelengkannya kepala ketika dia melihat anak semata wayangnya sedang memakan pisang goreng itu seorang diri.
"Arqi, Arqi. Masih aja ya hobi kamu ngajangi makanan."
"Hehehe, maklum, Ma. Arqi laper banget. Lagian pisang gorengnya juga enak, walaupun buatan Mama lebih enak."
Ibu Arqi cuma bisa geleng-geleng kepala, anaknya senyum-senyum melihat mamanya seperti itu.
"Kuliah kamu gimana?"
"Biasa aja, nilai nggak naik, nggak turun. Stabil kok, Ma."
"Baguslah, jangan sampai IPK kamu turun ya."
Arqi hanya mengangguk lalu dia mengambil gelas dan menuangkan susu dari dalam kartonnya.
"Oke deh, Ma." Arqi mengedipkan sebelah matanya.
"Kamu nggak pernah punya cewek ya?"
"Hah?"
Mama Arqi hanya mengedikkan bahunya.
"Kok tiba-tiba tanya tengtang itu?"
"Habisnya kamu nggak pernah ngenalin cewek ke Mama. Temen cewek kamu cuma tetangga sebelah. Apa kamu nggak pingin punya cewek?"
"Biasa aja. Lagian kan Arqi masih 20 tahun. "
"Terus kalau kamu jomblo forever gimana?"
"Ah Mama ini ada-ada aja. Ya nggaklah, belum waktunya buat Arqi ngenalin cewek itu."
"Jadi kamu sudah punya,ya?" selidik mama Arqi.
"Ya gitu deh. Mama aneh-aneh aja." Arqi gondok setengah mati. Mamanya cuma senyum-senyum melihat putra tercintanya malu. Arqi berlalu ke kamar, merbahkan dirinya ke kasur. Besok dia akan mulai mengajar anak SMA yang umurnya nggak seberapa jauh dengan Arqi. Dengar dari kakak tingkatnya, biasanya ada aja siswi  yang naksir ke guru PPL. Yah kalau naksir biasa sih nggak masalah, tetapi kalau naksirnya alay gimana? Wah berabe itu. Padahal kan guru  nggak boleh pacaran sama murid ya? Tapi kalau yang naksir malah dia sendiri gimana? Arqi jadi tambah pusing. Udah mamanya tanya hal nggak penting yang bikin dia gondok setengah mati. Kalau sudah frustasi begini biasanya dia langsung mengambil bola basket yang ada di bawah kasurlalu pergi ke lapangan basket di komlek Mahameru.
Walaupun bukan atlet basket, tapi Arqi lumayan jago. Tapi kadang dia juga bosan kalau main sendiri. Dulu waktu masih SMA ada Ferdy yang biasa nemenin dia main, sekarang siapa? Saat itu lah  dia kepikiran Vanessa. Kenapa nggak Vanessa aja? Lumayan kan buat melampiasakan rasa frustasinya? 
Arqi pamit mau main basket sama Vanessa di lapangan komplek.
Tak lama kemudian ia sudah berada di lapangan bersama Vanessa, dan mulai main basket. Walaupun tubuhnya kecil, dia bisa mengimbangi Arqi yang tingginya 187 cm. Lincah juga ini bocah. Pikir Arqi. Udah cukup lama mereka di situ sambil bermain basket. Setelah kelelahan mereka merebahkan diri ke lapangan basket, tak peduli kotor.
"Kamu lumayan mainnya, kenapa nggak gabung aja di ekstra basket sekolah?"
"Nggak. Aku nggak suka kompetisi."
"Tapi hidup itu kompetisi juga kan akhirnya? Untuk lahir saja kamu harus mengalahkan 300 juta sperma lainnya untuk bisa melebur dengan sebuah sel telur? "
"Nggak suka aja, lagian lebih suka lihat."
"Ya udah terserah kamu."
Lama mereka terdiam, mengembalikan ritme nafas yang pendek-pendek ke panjang-panjang(ah bingung deh). "Kenapa kok milih pendidikan Bahasa Jerman? Kenapa nggak Pertanian seperti cita-cita  Mas Qi,dulu?"
"Hm, gimana ya? Susah jelasinnya. Apalagi jelasin ke anak paling lola satu sekolahan." Arqi terkekeh geli.
"Apaan sih?"
"Bercanda, Sa." ucap Arqi lalu mengacak rambut Vanessa. "Jadi waktu itu, Mama bilang ke aku. Dia pingin putranya jadi guru. Yang ilmunya bermanfaat bagi sesama. Percuma aku kaya, jadi seperti yang aku mau. Tetapi ilmuku sulit untuk kubagikan. Lebih baik ilmu itu bermanfaat bagi sesama. Makanya aku milih pendidikan Bahasa Jerman." jelas Arqi sabar.
"Terus kenapa harus Bahasa Jerman? Kan masih ada bahasa inggris?"
"Karena Papaku orang Jerman."
"Oh iya,lupa." Vanessa termenung, baru ingat kalau Mr. Adalwine bule Jerman tetangganya yang nyentrik itu ayah Arqi. Sekarang beliau lagi ada di Jerman menjenguk Nenek Arqi yang sedang sakit (kabar dari perbincangan Ibu Arqi dan Vanessa).
Mr. Adalwine bule nyentrik tapi baik hati menurut Vanessa. Walaupun bule tapi cara bergaulnya hampir sama kayak orang-orang di Mojokerto. Heran juga Vanessa sama bule itu mau tinggal di kota kecil kayak gini. Mr. Adalwine ini pengusaha di Surabaya, tipa hari bolak-balik Mojokerto-Surabaya. Entah kenapa nggak sekalian aja di Surabaya(mana gue tahu)?
"Sa."
"Hah?" Vanessa tersadar dari lamunannya.
"Cowok tadi itu suka sama kamu,ya?"
"Yang mana?" Vanessa bingung.
"Haris kalau nggak salah namanya? "
"Oh dia. Nggak kok. Dari dulu kita berteman. Nggak mungkin lah dia suka sama teman sendiri/"
"Ya kan mungkin aja." balas Arqi sewot.
"Apa an sih? Udah ah, jangan bahas Si Haris lagi." Vanessa gusar.
Entah kenapa kegusaran itu justru membuat Arqi jadi lebih tenang.v"Ayo pulang?" Arqi berdiri, lalu mengarahkan tangannya ke arah Vanessa yang masih tiduran.
Ide jahil muncul di kepala Vanessa. Dia menarik tangan Arqi kuat-kuat. Sehingga cowok itu hilang keseimbangannya. Otomatis tubuhnya akan menimpa Vanessa, dengan sigap digulingkannya tubuh Vanessa hinnga kini wajah mereka berhadapan.
"Hehehe, masih ketipu juga."ejek Vanessa, dia masih tidak sadar kalau wajahnya sedekat ini dengan wajah Arqi.

Arqi bergumam tidak jelas. Jantungnya berdetak kencang sekali. Sialan. Batin Arqi. Pada saat itu Vanessa baru menyadari kalau wajahnya hanya berjarak 5 cm dari wajah Arqi. Rasnya nafasnya sudah mau berhenti.
Ya ampun, dia baru sedekat ini dengan cowok. Dan dia nggak tahu harus ngapain. Dari dekat Arqi lebih tmapan, lebih mirip dewa yang di mitologi yunani, baunya seperti.. Vanessa tidak tahu, warna matanya abu-abu gelap tapi bening seolah menarik Vanessa untuk menyelam kedalam mata itu.
Untungnya Arqi lebih bisa menguasai diri. Dia menjauhkan wajahnya perlahan, dan berdiri perlahan sambil membantu Vanessa berdiri.
"Ayo aku antar kamu pulang, "
Vanessa hanya mengangguk, dia nggak mampu berkata-kata. Wajahnya seperti tomat rebus. 
Di jalan, dia sudah bisa menuasai diri. Jadi nggak seberapa canggung. Arqi berjalan sambil meletakkan telapak tangnnya yang lebar di ubun-ubun Vanessa. Hal itu mampu mencairkan suasana. Mereka bercanda ria di sepanjang jalan kompleks yang sepi.
Sampai dirumah Arqi pergi ke kamar mandi, segar sekali rasanya setelah berpeluh ria. Malam itu Arqi mengenakan celana piama warna abu-abu dan kaos putih lengan pendek yang menunjukkan lengannya yang kokoh. Dia masuk ke kamarnya merebahkan diri ke kasur. Dipandanginya jendela yang belum tertutup. Lalu dengan ogah-ogahan dia berjalan menuju jendela dan di seberang sana terlihat Vanessa sedang di depan layar laptop, mengetik sesuatu. Isengnya muncul. TIba-tiba dia mengeluarkan kepalanya dari jendela dan berbicara dengan keras" JANGAN TIDUR TERLALU MALAM. BESOK SEKOLAH" lalu tersenyum jahil saat Vanessa menoleh dengan ekspresi kaget. Perlahan ekspresi itu mencair menjadi senyuman lembut. Vanessa menghampiri jendela kamarnya, Dan langsung menutup kaca jendela, sebulum menutup tirainya, dia menjulurkan lidahnya seperti anak kecil sambil tersenyum lalu menutup tirai angry birdsnya.
Arqi juga tersenyum melihat kelakuan Vanessa. Sepertinya dia mulai benar-benar jatuh cinta dengan Vanessa.

to be continued....



No comments:

Post a Comment