Thursday, January 17, 2013

Gunung Penanggungan





Perjalan Raga dan Jiwa di Penanggungan
Sepulang aku dari pendakian ke Gunung Lawu. Aku tidak beristirahat seperti biasa. Aku malah online via Facebook. Melihat status teman-teman di Facebook yang habis dari Lawu. Tiba-tiba saja ketua PA ku online.  Lalu di berandaku ada statusnya :Tahun Baru ke Penanggungan,
Aku termenung, tahun baru 2 hari  lagi. Padahal barusan aku pulang dari Lawu, apakah aku harus pergi lagi? Lalu aku berpikir, lebih baik aku naik ke Gunung Penanggungan merayakan tahun baru bersama temn-teman daripada aku pergi rea reo tidak jelas di kota.
Aku belum berani bilang kepada Bapak dan Ibu. Aku berdoa dan terus berdoa setiap saat. Berharap Allah mengabulkan doa hambaNya yang lemah ini. Aku lalu menghubungi Mas Adam, mantan ketua PA ku. Aku bertanya apakah sebaiknya aku ikut? Lalu dia menjawab aku harus ikut. Lalu berbekal niat dan doa, kutemui Ibu. Ku ungkapkan segala kegundahan hatiku kepada beliau. Dengan lembut beliau mengusap kepalaku. Beliau tersenyum. Alhamdulilah Ya Allah, Ibu telah memberikan restunya. Hingga satu jam sebelum aku berangkat, aku belum bilang  kepada Bapak.
Dengan berdoa dalam hati, aku meminta izin beliau. Dan Alhamdulilah Ya Allah(lagi) beliau mengizinkanku. Jam 2 pas aku dijemput oleh Mbak Gobez. Lalu kami berpamitan kepada Bapak dan Ibu. Lalu aku dibonceng sepeda motor. Sebelum kami berkumpul di rumah Mas Akbar, kami mampir ke supermarket untuk membeli butana. Supaya nanti tidak kekurangan bahan bakar saat di gunung.
Di supermarket yang sebesar itu kami berdua masuk membawa tas yang besar-besar. Seperti orang mau “minggat” dan hanya membeli sekaleng butana dan tisu basah satu lembar. Lalu setelah dari supermarket aku dan Mbak Gobez pergi ke rumah Mas Akbar. Disana kami berkumpul, kami menunggu beberapa rekan kami.
Saat sampai dirumah Mas Akbar sudah ada Mas Faris, Mbak Falen , dan Mbak  Puput. Ternyata mereka juga ikut. Mbak Gobez langsung pergi menjemput Mbak Chum. Lalu Mas Adam dan Mbak Ina datang, selanjutnya Mas Somat dan Mas Wardana datang, lalu Mas agung.
Beberapa saat kemudian Mbak Gobez menyuruh kami berangkat, karena dia dan Mbak Chum sudah perjalanan ke Mak Ti, tempat kami singgah sebelum mendaki penanggungan.
Lalu kami berangkat, aku  satu sepeda motor dengan Mas Akbar.  Lalu kami berangkat, karena dibonceng aku tenang-tenang saja. Aku menikmati pemandangan disekitarku, kubiarkan kaca plastik pelindung muka terbuka, aku merasakan hembusan nikmat angin di wajahku.
Perlahan kami mulai meninggalkan daerah perkotaan, pemandangan digantikan dengan hamparan sawah dan bukit. Lalu perlahan tampaklah si Nona Penanggungan berdiri dengan anggungannya. Disebelahnya Arjuno-Welirang juga berdiri dengan gagahnya.
Ah, sungguh indah sekali ciptaan Tuhan Yang Maha Kuasa ini. Kurasakan, aku tak pernah menyesal ikut dalam perjalanan ini. Bagiku ini bukan hanya perjalanan biasa,ini perjalanan jiwa. Tak henti-hentinya aku mengagumi hamparan lukisan Sang Pencipta. Mas Akbar dan aku mengobrol sepanjang jalan, mengobrol tentang gunung yang akan kami daki.
Udara mulai berubah sejuk. Aku semakin suka. Akhirnya kami sampai di Mak Ti. Ternyata Mbak Chum dan Mbak Gobez sudah ada disana. Kami makan sebentar lalu sholat. Jam 7an kami memulai pendakian.
Awalnya jalan yang kami lalui kebanyakan landai. Aku tidak terlalu kelelahan, aku terus berjalan mentap kedepan. Gerimis menemani langkah kami malam itu, aku sudah tidak bisa membedakan keringatku dan air hujan yang membasahiku.
Lalu seorang seniorku menyuruhku menengok ke belakang, dengan enggan kubelokkan tubuhku. Dan. Subhanallah…. Alangkah indahnya pemandangan di depan mataku. Lampu-lampu kota dibawah sana berkelap kelip bagai foto kota Loa Angeles di internet. Disaat itulah aku sadar, betapa kecilnya aku. Walaupun sudah ke Lawu,  baru kali ini benar-benar kusadari betapa kecilnya aku. Tapi kenapa dulu aku begitu sombong , mengira bahwa akulah yang paling besar di muka bumi ini.
Tak terasa air mataku menetes. Sejenak aku menikmati perenunganku, lalu segera kuhapus air mataku dan segera tersenyum. Lalu kulanjutkan perjalanan kami. Tiba-tiba hujan menjadi cukup deras, untunglah kami belum masuk hutan.  Jadi kami berteduh dulu di sebuah warung, menunggu hujan reda.
Waktu masuk ke warung kami menjumpai beberapa pendaki lain. Dan yang membuatku terkejut ternyata ada satu keluarga yang ikut mendaki. Wah, hal ini sangat jarang terjadi. Karena kalau hanya ayah dan anak masih wajar saja, tapi ini ayah, ibu, dan 3 orang anak mereka yang mungkin usianya masih 4-5 tahun. Kami bercengkrama dengan pendaki lain, tak sedikit dari kami yang  yang membuat kekonyolan-kekonyolan, salah satu sumber  kekonyolan itu adalah aku sendiri.
Kami tertawa bersama, bercanda, dan berbagi makanan. Mbak Gobez yang sudah  keleson (kelaparan) akhirnya mengeluarkan  sebungkus nasi jagungnya. Rencananya nasi jagung dan lauk pauknya akan dimakan di puncak bayangan saat tahun baru. Berhubung cuaca belum memadai akhirnya kami ber12 memakan nasi jagung yang tidak terlalu besar porsinya. Dan kami makan dibawah guyuran hujan(tak memungkinkan makan di dalam karena warungnya sempit. He.. he.. he..)
Mungkin itu nasi jagung terenak di dunia. Dibawah guyuran hujan, dalam keadaan kelaparan, dan bersama teman-teman. Sungguh istimewa. Selesai makan kami membuang bungkusnya ke tempat sampah. Lalu hujan pun belum reda. Aku berkata kepada teman-temanku. Kata tetanggaku, kalau sapu lidi kita balik ke atas niscaya hujannya berhenti. Disebelah warung itu ternyata ada sapu lidi. Kami membaliknya dan berdoa kepada Yang Maha Kuasa.
Tapi hujan tak kunjung berhenti. Akhirnya  kami memustuskan mendaki dalam guyuran hujan. Mungkin saat itu jam 8 malam, kami memulai pendakian. Kami pamit kepada pemilik warung dan beberapa orang pendaki yang masih ada disitu.
Juas hujan sudah kami pakai, senter sudah ada dalam genggaman kami. Dan kami  berjalan dalam diam, dalam kedinginan. Awalnya jalan landai biasa. Namun lama-lama jalanan mulai menanjak. Medan yang masih alami dan becek karena  diguyur hujan membuat medan menjadi sangat susah, apalagi di didalam kegelapan.
Aku berjalan didalam jas hujan yang super besar, aku harus mengangkut sebagian jas hujanku agar tidak selip diantara kedua kakiku. Akhirnya karena didalam jas hujan agak panas, aku dan beberapa orang lainnya melepas jas hujan kami. Walaupun kami basah , tapi itu lebih nyaman.
Makin lama jalan yang aku lalui makin susah, terkadang kami harus saling menarik. Jalannya tidak ada yang landai, aku mulai kelelahan, nafasku agak berat. Rasanya puncak bayangan jauh sekali. Sepanjang perjalanan banyak akar kecil yang menari-nari meliuk-liuk dibawah kaki kami alias cacing yang besar-besar dan panjang. Aku diam saja, karena jika aku berteriak, maka akan heboh para perempuan itu ditengah gunung malam-malam begini.
Aku diam saja. Berusaha menyimpan tenagaku. Agar tidak terbuang percuma untuk mengobrol, karena medan yang berat dan tidak ada “bonus” trek landai. Langkahku semakin gontai saja, lalu kudengar suara dibelakang ada yang berteriak. Aku menoleh kebelakang, ternyata Mbak Puput terpereset, iya terlihat sangat kepayahan. Akhirnya kami berhenti, menungguinya yang sedang istirahat. Lalu Mbak Ina mengajakku jalan lagi, biar Mas Wardana dan Mas-mas yang menjaganya.
Lalu aku dan Mbak Ina melanjutkan perjalanan, berberapa kali aku dan Mbak Ina terpeleset. Jalanan juga tidak membaik malah makin berat. Entah mengapa nafasku benar-benar terasa sesak, mataku berkunang-kunang. Aku diam, tetap berjalan sekali-kali aku mereguk air mineral.
Tapi rasanya tak mengurangi rasa lelahku. Mbak Ina yang tahu mukaku sudah memucat menawarkan membawakan tasku. Karena agak tidak enak,  dengan Mbak Ina yang tubuhnya mungil, aku menolak. Tapi lama kelamaan tubhku makin tidak kuat, aku sering jatuh(karena membawa persediaan air lebih banyak), akhirnya aku berikan tasku padanya.
Jalanku semkin ringan saja, lebih cepat.  Lalu di depan kulihat Mbak Gobez berhenti, ternyata dia menunggu kami, karena jalan yang ada didepan sangat sulit, kami harus berpegangan pada sebuah pohon agar tidak jatuh ke jurang, kami lalu estafet, Mbak Gobez duluan.  Setelah mencari pijakan yang mantap kami mengoper tas kami satu per satu, lalu gentian kami satu per satu. Dan akhirnya kami lewati medan paling rumit itu. Beberapa saat kemudian aku sadar kemana laki-laki?
Ternyata sebagian mereka sudah mendirikan tenda di puncak bayangan(aku di sms temanku,karena di penanggungan ada signal) yang sebagian lagi masih sama Mbak Puput. Lalu kami lanjutkan perjalanan, dibawah guyuran hujan, kami bertemu beberapa pendaki, kami saling menyapa . aku bertanya pada seorang seniorku. Katanya sih kurang dua tikungan, tapi kok tidak sampai-sampai. Akhirnya aku berjalan diam, sekitar 20 menit kemudian tibalah kami di puncak bayangan.
Alhamdulilahirobbilalamin, itulah yang pertama aku ucapkan. Lalu aku merebahkan diriku diatas hamparan rumput . lalu kuambil Handphone ku. Tiba-tiba saja perasaan  rindu pada Ibu muncul, aku lalu menangis di depan kawan-kawanku. Mereka tertawa melihatku.
Lalu Mas Faris menyuruhku menelepon Ibuku, aku mnelepon beliau dan menceritakan semua perjuanganku sampai ke puncak bayangan Gunung Penanggungan. Pendaki-pendaki lain hanya tertawa melihat tingkahku. Lalu Cak Tajab danMas Fahmi datang, wah jadi semakin ramai saja penanggungan ini.
Lalu kami berganti pakaian yang sudah terlanjur basah, jam23.45 kami semua menggelar jas hujan yang kami bawa, kami menikmati pemandangan kota dari atas puncak bayangan, disebrang Penanggungan Sang Gunung Arjuno-Welirang berdiri gagah.
Lalu ada beberapa kembang api yang dinyalakan di pet bocor(kelihatan dari penanggungan). Dari sini terlihat bebrapa tempat sedang berpesta kembang api. Kami seperti orang “ndeso” yang tidak pernah melihat kembang api sebelumnya. Tapi sungguuh pemandangan ini indah sekali. Saat itu aku duduk diantara Mas Fahmi dan Mas Wardana, dua orang itu badannya lumuayan besar, dan badanku kecil jadinya lumayan hangat(hehehe). Lalu Mas Fahmi dan Mas Wardana berdebat dengan sepak bola, akhirnya kami browsing internet untuk membenarkan argument itu, lalu aku membuka Facebook dan update status,haaha..

Jam 00.00 kami semua bersorak menyambut tahun baru 2012. Sangat menyenangkan sekali. Semuanya bahagia saat itu, dan ini pertama kali aku merayakan tahun baru dengan penuh perjuangan. Kami menikmati kembang api yang saling bersahutan, rasanya kecil sekali kembang api itu. Disnilah aku kembali merenung, kecil sekali kami manusia.
Jam 00.01 rata-rata sudah tidur di tenda. Aku akhirnya memutuskan kembali ke tenda, membuat makan malam(walaupun hanya mie goreng saja). Karena kawan perempuanku yang lain sudah tidur. Akhirnya aku dan Mas –mas nya masak,(lebih tepatnya aku), setelah matang kami makan mie itu bersama-sama. Walaupun hanya kebagian sedikit, tapi rasanya sungguh mengeyangkan dan nikmat.


Akhirnya aku kelahan lalu tertidur di matras depan tenda, saat tidur aku bermimpi Ibuku menyuruhku pergi kesekolah(ternyata baru aku tahu, Mas-mas yang mengerjaiku). Jam set 5 aku bangun, yang melanjutkan ke puncak utama  hanya aku, Mbak Gobez, Mbak Chum, Mbak Falen, Mas Wardana, dan Cak Tajab.
Medannya lumyan berat, dengan kemiringan 60°. Jalannya sangat tidak menyenangkan, beberapa kali aku tergelincir. Dan perjalanan juga lumyan berat, kami melewati jalan berbatu-batu. Karena sandalku kebesaran, berkali-kali aku tergelincir, hingga akhirnya aku dibelakang sendiri bersama Cak Tajab, aku terus melangkah tanpa lelah. Pikiranku hanya satu. Puncak. Akhirnya perlahan terlihatlah Puncak nona Penanggungan.

Rasa lelahku seakan hilang,aku lalu berlari menyusul teman-temanku yang sudah sampai duluan. Sungguh senang rasanya.
Dipuncak kami berfoto dengan Sang Merah Putih

Setelah puas foto-foto kami turun, dperjalan turun pu n kami masih saja berfoto ria.
didepanku ada Arjuno-Welirang

Akhirnya kami sampai di puncak bayangan, setelah istirahat dan makan, kami berkemas. Mebumpulkan sampah yang telah kami buat, lalu membungkusnya untuk dibuang ke tempat sampah dibawah. Kami tidak mau menyandang organisasi pecinta alam  tapi tidak berperilaku mencintai alam.

Lalu kami melanjutkan perjalanan dari puncak bayangan turun ke Mak Ti. Sepanjang perjalanan banyak kejadian-kejadian  lucu. Karena semalam hujan, jalanan menjadi sangat licin, kami semuat sempat terpeleset. Sepanjang jalan penanggungan menjadi sangat ramie dengan nyanyian sumbang kami. Sungguh menyenangkan rasanya.
Sampai di Mak Ti, kami semua mebersihkan diri lalu makan rawon khas Mak Ti. Lalu pulang kerumah masing-masing. :D
Itulah perjalan raga dan jiwa. Sungguh tak akan terlupa.

4 comments: