Monday, June 10, 2013

Ketika Cinta jatuh cinta.




“Apaan sih, Lis. Aku kan sudah bilang aku nggak mau pergi ke double apalah kamu menyebutnya.” Ujar Cinta kepada Lisa. Ia sudah menolak ajakan Lisa untuk double date sama Dani dan temannya. Tapi Lisa kekeuh ingin Cinta ikut.
“Ini kesempatan kamu, Cinta!”

“Kesempatan apa? Kesempatan kamu deketin aku ke anak laki-laki?”
“Iya, kenapa?” Lisa berteriak, nada suaranya sangat menantang.
“Oke, tapi jangan harap rencana kamu berhasil.” Cinta gusar setengah mati. Ia sebenarnya sangat benci dengan kata ‘cinta’ dalam arti yang sebenarnya. Sehingga acara kencan ganda merupakan hal yang memuakkan untuknya.
“Benar, Cin?” mata Lisa membulat bersinar bahagia. Dan sebagai jawaban Cinta hanya menghela nafas.
Cinta sangat tidak percaya dan benci setengah mati dengan hal yang diagung-agungkan oleh seluruh manusia di dunia ini yaitu ‘Cinta’ padahal itu sama saja dengan namanya. Baginya hal itu sangat memuakkan. Melihat kawan-kawannya jatuh cinta sebenarnya bukan membuat Cinta iri. Hanya saja ia muak ketika mereka satuper satu hancur karena cinta itu sendiri. Dan ia jadi muak. Ia berjanji bahwa ia tidak akan pernah jatuh cinta, karena dia akan hidup tanpa cinta kecuali dari orang tua, teman, dan Tuhan.
Uijian Akhir Semester sudah berlalu, saatnya para murid sedikit bersantai melemaskan pikiran mereka sejenak. Dan hari kencan ganda Lisa sudah akan datang. Cinta menncoba mengabaikannya. Ia sibuk dengan kucingnya. Hari ini dia harus ke petshop. Katrin, nama kucing kampong Cinta mau dimandikan.
“Mbak, temenin aku.”
“Kemana, Cin?”
“Ke petshop, Katrin mau mandi.”
“Ayo!” seru Mbak Ve. Atau Mbak Love. Ia mengambil sepeda motor matic dan membonceng Cinta yang membawa keranjang berisi Katrin. Cinta punya tenaga ekstra agar Katrin tidak meloncat keluar dari keranjang saat di jalan.
Sesampainya di petshop Cinta disambut oleh seorang anak perempuan seusianya(18 tahun) , namanya Nimas. Cinta akrab dengan ‘’hairstyle” kucing yang satu ini. “Eh, Cinta, Mbak Ve, sama si Katrin. Mau mandiin Katrin ya?”
“Iya nih, Nim. Yang mandi kutu ya.” Ujar Cinta.
“Sipp, tunggu di luar ya. Sini Katrinnya.” Cinta menyerahkan Katrin kepada Nimas. Ia dan Mbak Ve kemudian ke bagian depan petshop itu. Ruang tunggunya lumayan nyaman.
“Mbak ada perlu sebentar dekat-dekat sini. Kamu mau ikut?”
“Nggak deh mbak, aku di sini aja sambil baca komik.”
Mbak Ve pergi, sedangkan Cinta terhanyut dalam petualangan Detektif Cona. Hngga ia tidak sadar bahwa ada sepasang mata yang hitam sedang mengawasinya. Hingga sang pemilik mata hitam nan indah itu menyapa Cinta.
“Aku lihat kamu sangat terhanyut dalam cerita itu.”
Cinta menengadahkan kepalanya kea rah suara itu, merasa terusik dengan ketentramannya membaca. “Memang kenapa?” nada suara sangat ketus. Benteng pertahanan Cinta dari anak laki-laki dimanapun ia berada.
“Aku kebetulan juga menyukai komik itu.”
Cinta menaikkan alisnya, meminta penjelasan lebih dan siapa orang asing yang agak lumayan cakep sekali. “Oh iya, aku Haris. Kebetulan aku pengelola petshop ini.” Ia mengulurkan tangannya, sehingga Cinta juga membalas uluran tangan itu.
“Cinta, aku pelanggan tetap di sini. Kamu otaku juga?”
“Ya, khusus untuk Conan saja.” Ia tergelak.
Mereka kemudian hanyut dalam pembicaraan yang seru, ternyata Haris sangat konyol walaupun penampilannya cool abis. Hingga tak terasa  sudah jam setengah 5 sore.
Nimas datang membawa Katrin yang sudah cantik dan harum shampoo kucing. Sudah kinclong untuk ukuran kucing kampong. Warna Katrin sangat unik, abu-abu dengan mata biru pucat. “Ini mbak , Katrin udah selesai. Eh, Pak Haris, tumben kesini?”
“Heehehe, sudah kubilang panggil saja Haris. Aku kan belum setua itu, Nim.” Ujar Haris sambil tertawa.
Dan pada saat itulah, saat Cinta menggendong Katrin, melihat Haris tertawa renyah, dengan ketampanannya yang wow. Cinta jatuh cinta.
Kemudia Cinta menelpon Mbak Ve, minta dijemput. “Aku tunggu di luar ya, Ris.”
“Mau pulang, Cinta? Aku antar sampai rumah kamu ya?”
“Nggak usah, aku udah dijemput kakak.”
“Ya aku temani sampai depan gerbang saja.” Sekilas ia melihat Haris mengedipkan matanya. Ya Tuhan, dia sudah berjanji tidak akan jatuh cinta. Tapi dia Cinta yang membenci cinta sedang jatuh cinta.
Cinta hanya mengangguk sambil memasukka Katrin ke dalam keranjang. Haris mengimbangi langkah Cinta. “Kapan-kapan boleh aku yang ke rumahmu?”
“Eh,,, boleh kok.” Ujar Cinta agak gugup. Biasanya ia tidak pernah seperti ini sebelumnya. Ia kena karma kelihatannya. Terlalu meremehkan kekuatan Tuhan.
Tak lama Mbak Ve datang. “Aku pulang ya, Ris. “
“Iya, sampai ketemu.” Ujar Haris sambil tersenyum memamerkan giginya yang sempurna.
‘Eh. Iya sampai ketemu.” Ujar Cinta gugup. Ia cepat-cepat pergi sebelum perasaannya jadi lebih kacau lagi.

“Akhirnya Haris keluar dari ruang gelapnya.” Ujar Nimas penuh arti.
“Aku akan membalasnya, Nim. Karena dia sudah berani membuatku jatuh cinta.”
“Sudah berapa lama kau bersembunyi, Kak? Kau jatuh cint a padanya selama bertahun-tahun dan ketika kau menemuinya hanya itu reaksinya?”
“Aku yakin, aku mampu membuat Cinta jatuh cinta.” Haris berjanji dalam hatinya.

Akhirnya hari dimana kencan ganda itu tiba. Cinta hanya mengenakan gaun santai berwarna biru kehijauan. Sedangkan Lisa mengenakan gaun berwarna merah jambu.
Tak lama kemudian mobil Dani berhenti di depan rumah Cinta. Ia sudah minta ijin ke orang tuanya bakalan pergi sama Lisa dan Dani. Ia duduk di kursi belakang. Sedangkan Lisa dan Dani di depan. Itu terlihat seperti Cinta adalah anak sementara Lisa dan Dani seperti ayah dan ibu.
Mereka sampai di sebuah rumah yang besar, seperti di film James Bond, piker Cinta. Ia benar-benar tidk berminat. Apalagi setelah bertemu Haris. Menyadari dia mulai jatuh cinta, ia semakin membenci dirinya sendiri.
Pintu gerbang itu terbuka secara otomatis. “Aku piker kita akan ke restoran.” Ucap Cinta.
“Ruang makannya lebih bagus daripada restoran bintang lima sekalipun.” Dani menyahuti ucapan Cinta.
Mereka berhenti di depan pintu, disambut oleh 5 orang pelayan berseragam sama. Wow, kaya sekali orang ini piker Cinta. Ia tidak tahu kejutan besar akan ia terima mala mini. Yang akan menjungkir balikan hidupnya yang nyaman.
Mereka dipersilahakan ke halaman belakang. Di sana ada kolam renang dikelilingi taman yang indah dengan lampu yang redup. Sangat romantis.
“Silahkan duduk, Tuan dan Nona.” Ujar seoran pelayan lelaki berusia 6o tahunan.
Mereka menuruti instruksi yang kelihatannya kepala pelayan itu. Duduk dengan gelisah menanti sang tuan rumah. Lisa agak pendiam malam itu, ia hanya tersenyum bahagia penuh arti.
“Tuan Ferdy akan hadir beberapa saat lagi, harap bersabr menunggu.”
Agak lama kemudian seorang berpakain formal dengan rambut cokelat dan mata hitam legam tapi indah membuat Cinta terpaku. “Haris..”
“Halo sayang, kita bertemu lagi. Aku rasa ini pertemuan yang entah sudah keberapa kali.” Ia tersenyum penuh arti.
Cinta sangat bingung, apa maksud perkataannya? Bukannya ini pertemuan kedua mereka?
“Ah, terima kasih sahabt-sahabatku telah mengajak belahan jiwaku kemari.” Ia tersenyum lalu menundukkan wajahnya kea rah Cinta. Mengecup lembut bibirnya.

No comments:

Post a Comment