Wednesday, July 10, 2013

Cinta Biasa Part 5

Ada yang beda hari ini. Tiba-tiba saja Arqi sudah nangkring di depan rumah Vanessa sambil bawa sepeda. Karena kedodolannya yang masih belum hilang total, dia nggak menyadari keberadaan Arqi sampai dia mengeluarkan sepeda dan menuntun sepeda hingga tepat sampai di depan Arqi. Vanessa menengadahkan kepalanya, dan terkejut ketika yang dilihatnya itu Arqi.

Arqi mengangkat sebelah alisnya "Kaget ya?"
"Enggak kok, tumben pakai sepeda?"
"Nggak apa-apa mumpung ada temennya."
"Oh..."
"Ya udah ayo, nanti telat."
Arqi membiarkan Vanesa mendahuluinya, lalu dengan cekatan disamakan jaraknya dengan Vanessa, hinnga ia berada persis di sebelah Vanessa.
"Kamu nggak pacaran kayak temenmu yang lainnya?" tanya Arqi.
"Nggak dulu , Mas Qi. Aku masih nunggu seseorang, dan aku nunggu lulus baru aku mau menyatakan cintaku."
"Kalau seandainya dia nggak menerima cintamu?"
"Ya nggak apa-apa. Aku kan hanya mengungakapkan."
Kamu,tahu. Cowok itu kamu Arqi, batin Vanessa.
Hancur hatiku dengar pengakuanmu, Sa, batin Arqi.
Mer eka terus mengayuh sepeda, hinnga tiba di depan gerbang sekolah. Di sekolah udah cukup ramai, begitu melihat Arqi dan Vanessa datang bersama, para siswa khususnya yang cewek langsung melongo. Nggak mungkin banget rasanya kalau mereka pacaran. Orang baru kenal. Apalagi Vanessa bukan anak yang populer di SMAN 3. (Faktanya Arqi mahasiswa PPL paling populer di SMAN 3).
Vanessa agak jengah melihat pandangan siswa-siswi SMAN 3. Lain lagi dengan Arqi. Dia cuek saja.
Setelah memarkirkan sepeda, mereka menuju ruangan masing-masing. Sebelum berpisah Arqi sempat mengucapkan salam berpisah dan mengacak rambut Vanessa dengan sayang.

Suasana gaduh sekali saat dia memasuki kelasnya. Begitu dia duduk di bangkunya. Teman-teman sekelasnya langsung mengelilinginya, menatap Vanessa dengan pandangan sangat ingin tahu.
"Apaan sih?"
"Kenapa kamu nggak cerita?" ujar Bianca.
"Cerita apa?" kerut di dahi Vanessa muncul.
"Aduh, ni orang pura-pura bego atau emang bego beneran sih?" kata Andrie tidak sabaran. Yang lain ikut meniyakan.
"Lho iya, kalian ini maksudnya apa?Emang aku harus cerita apa?"
"Kamu pacaran kan sama Arqi?"
"Apa?" Vanessa melongo. "Kok bisa kalian mikir kayak gitu?"
"Ya ampun, Sa. Orang idiot aja juga tahu kalau kalian pacaran. Secara body languge aja kalian itu kayak sepasang kekasih tahu nggak?"
"Ya ampun, Aku sama Arqi itu tetangga sebelah, apa salahnya kalau kami berangkat bareng?"
"Ya nggak masalah, tapi waktu di parkiran. Kamu nggak bisa ngelak lagi."
Interogasi mereka terhenti ketika guru Bahasa Jerman mereka datang. Pak Andre di ikuti seorang laki-laki berbadan tinggi, setengah bule, tampan luar biasa, berambut cokelat, dan bermata abu-abu. Dan tentu saja itu Arqi.
"Mulai hari ini, pelajaran Bahasa Jerman sebagian besar akan diberikan oleh..?" Pak Andre menatap Arqi meminta kepastian.
"Arqi Adalwine. Panggil Arqi saja." ucapnya lembut namun tegas.
"Nah, berhubung hari ini saya ada rapat dengan kepala dinas, jadi untuk hari ini. Kalian akan belajar tanpa saya. Saya tinggal,nak." Lalu Pak Andre berlalu dari kelas.
"Guten Morgen, Jungs?"
"Guten Morgen!" jawab anak-anak serempak.
"Darf ich mich vorstellen. Mein Name ist Arqi Adalwine. Rufen Sie mich einfach Arqi." Arqi memperkenalkan dirinya. "bevor Aktivität heute, ich brauche deinen Namen kennen.
von Ihnen" Arqi menyuruh anak-anak memperkenalkan dirinya juga.
Setelah berkenalan, Arqi mulai menerangkan materi dasar, seperti kosa kata,  dalam Bahasa Jerman. Arqi orang yang menyenangkan, pelajaran dibuat hidup olehnya. Rata-rata pelajaran bahasa itu membuat ngantuk. Tapi khusus untuk Arqi, mereka betah sekali. Apalagi gurunya setengah bule Jerman nan tampan sekali. 
Kayaknya setiap siswi nggak bisa konsentrasi ke pelajaran malah konsentrasi sama gurunya.
Sepertinya waktu berjalan lebih cepat saat itu. Karena pelajarannya mendapat tambahan guru  setengah bule nan tampan.
Setelah mengakhiri pelajaran hari itu, Arqi langsung menuju ruang UKS. Biasanya  para mahasiswa yang sedang PPL ngumpul disini.
"Arqi ." panggil seseorang.
 Arqi menoleh, ternya itu Vanya. "Ada apa?"
"Nggak aku cuma mau ngajak kamu rapling di Jembatan Gajah Mada sama ank Pecinta Alam sini."
"Boleh, kapan emangnya?"
"Minggu jam 8."
"Oke deh, aku mau. "
"Iya, ntar langsung aja kamu ke jembatan. Kabarnya kamu pacaran sama siswi di sini ya?"
"Enggak kok." jawab Arqi santai." Dia udah kayak adek aku. Kan udah dari kecil."
"Oh, kirain aja."
"Jangan percaya gosip yang nggak jelas sumbernya."
Pembicaraan mereka terhenti ketika bel jam ke 5 sudah berteriak-teriak. Arqi membawa materi-materi yang akan dia ajarkan kepada murid-muridnya. Seperti biasa , siswi di kelas yang dia masuki selalu terbengong-bengong begitu dirinya masuk kelas. Setelah memperkenalkan diri dan mengatakan kalau Pak Andre sedang tidak bisa mengajar dan akan digantikan olehnya. 
Ternyata mengajar melupakan pengalaman yang menyenangkan untuknya. Membagikan ilmu. Selalu memberikan euforia tersendiri untuknya.






No comments:

Post a Comment