Wednesday, July 17, 2013

CAPTURE HEART 7



BAB 7
Ternyata mengakui cinta itu menyenangkan. Tidak ada lahi perasaan ragu atau menduga-duga, seperti yang biasa kulakukan. Tapi tetap saja rasanya tidak mungkin Jason yang sesempurna itu jatuh cinta padaku. Tapi ya sudahlah, mungkin hati punya maunya sendiri.


Sedikit demi sedikit aku mulai mengenal Jason. Dia sangat terbuka kepadaku. Apapun yang ingin kukrtahui tentangnya ia jawab. Aku sangat heran Jason mau membuang waktunya hanya untuk sekolah denganku, padahal ia sudah lulus 6 tahun yang lalu. Dan dengan mudahnya menyamar jadi siswa.
Jason berencana mengajakku ke rumahnya. Ini pertama kali mengingat dia hamper tidak pernah memberitahukan tempat dimana dia tinggal. Sekarang di sini kami berdua, di dalam sebuah mobil warna hitam. Ternyata rumah Jason terletak di pinggiran kota. Agak masuk ke hutan pinus. Disana sebuah rumah bergaya barat berdiri kokoh. Seperti ketika membayangkan rumah penyanyi Amerika yang terkenal entah aku lupa siapa namanya.
“Ini rumah atau penginapan?” aku mengankat alisku ketika ia membantuku turun. Oh iya Jason jadi kelewat posesif sekarang. Tatapannya seperti ia akan melahapku bulat-bulat. Setiap gerakan yang aku lakukan selalu diawasinya dan dibantunya ketika aku mengalami sedikit saja kendala.
“Terkadang aku memang berniat menjadikannya penginapan. Ayo kita kedalam.” Orang berbaju hitam kemarin yang mengantarkan kami pulang dari rumah Arista muncul dari balik pintu.
“Selamat datang Tuan Jason dan Nona Kinan.” Ia tersenum lembut. Orang ini jika kugambarkan mirip sekali dengan tokoh kepercayaan orang-orang tampan dan kaya di novel romantic yang biasa aku baca di blog. Kadang aku berharap ada yang seperti itu.
Jason hanya mengangguk singkat menarik lenganku, aku agak terseret karena langkahnya yang besar. Namun perlahan memelan sehingga aku tidak tersaruk lagi. Interior rumahnya semuanya serba barat namun banyak lukisan-lukisan khas Jawa , kebanyakan perempuan menggunakan kebaya jawa timur, aku tahu karena ibu dulu juga pernah pakai.
Kemudian ia membawaku ke sebuah perpustakaan, kulihat dari banyaknya buku di situ. Dan sebuah grand piano di sudut ruangan. “Kalau main ke rumahmu Cuma buat dengerin kamu main begituan, aku bakalan ngantuk.” Ketika kulihat ia duduk di kursi yang sudah disediakan.
“Seperti kau bisa mengantuk saja kalau kau ada di dekatku?” ia mengedipkan matanya. Yang langsung saja disambut aleh pipiku yang memerah. Ia memeainkan rangkaian nada-nada itu dengan begitu indah. Aku tahu itu lagu apa. Itu lagu yang dia nyanyikan untukku beberapa waktu yang lalu. Yang tadinya aku hanya duduk di salah satu sofa mendekatinya, aku menyentuh pundaknya. Ia sedkit bergetar tapi aku memantapkan genggamanku, seperti aku ingin mengalirkan semua kekuatan untuknya. Permainannya tidak berhenti tapi temponya makin lambat, aku memeluknya, menghirup aromanya, menikmati sensasi memabukkan yang ditimbulkan.
Kalau saja waktu bisa berhenti. Saat inilah aku ingin waktu dihentikan. Rasanya nyaman berada di punggungnya. Dan bergelung di relung lehernya. Aku tidak menyadari kapan ia berhenti bermain piano, tapi dia tiba-tiba sudah berbalik dan mendekapku di badannya.
“Ya ampun, Kinan sayang.” Ia mengelus rambutku dan menghirupnya kuat-kuat sampai kemudian melepaskanku. “Beruntung aku punya pengendalian diri yang kuat, kalau tidak mungkin aku sudah…” ia tidak mampu menyelesaikan kata-katanya.
“Sudah apa?” aku menarik nafas dalam-dalam, kehabisan nafas saat ia memelukku.
“Tak usah dipikirkan, ayo kita temui Edward. Apa makan malam kita hari ini untuk perempuan paling cantik di dunia ini.” Ia menghelaku ke dalam pelukannya.
Saat kami berjalan di lorong-lorong rumahnya adabeberapa orang sedang bekerja, entah itu merapikan ruangan, memperbaiki beberapa benda, dan masih banyak kegiatan di rumah ini. Saat orang yang dipanggil Edward oleh Jason menjumpai kami sedang berpelukan erat seperti itu, aku berusaha melepaskannya. Tidak sopan berpelukan di depan orang , tapi Jason malah mempererat pelukannya seolah tidak peduli.
Hari sudah sore ia mengajakku  makan dengan pemandangan matahri terbenam di antara pegunungan. Indah dan, romantis. Makanannya lumayan meskipun dari daerah luar tapi aku bisa menerimanya. Ia mengungkapkan cintanya lagi. Seoalah berusaha meyakinkanku bahwa ia benar-benar mencintaiku.
“Apa tidak ada rasa kasihan?”
“Ada, Nan. Pasti.” Aku terhenyak, kemudian aku menguasai emosiku kembali. Aku bukan tipikal orang yang patut dikasihani.
“Karena jika tidak ada perasaan kasih, apalah arti cintaku untukmu?”
Oh oh… Dalam sekali maksdunya. Tanpa sadar aku meneteskan air mata, hidungku sedikit berair. Wajahnya jadi buram karena berusaha menahan butiran air agar tidak jatuh. Ia mengusapnya dengan jemari panjangnya. Kemudian kulihat ia menyesapnya. Menikmatinya.
Ini terlalu pertama untuk jatuh cinta. Dan aku merasa aku tidak mau jatuh cinta pada orang yang berbeda. Ia mengecup dahiku lama. Kemudian ia menghela nafas, memejamkan matanya.



Hari sudah mulai malam, aku berusaha mengungkapkan keinginanku untuk pulang. Tapisebenarnya aku juga malas untuk pulang. “Jason?” aku menarik-narik kemejanya ketika kami sedang menonton sebuah film di ruang keluarga.
“Apa?”
“Ibu pasti sudah mencariku. Ayo pulang.”
“Tidak apa-apa. Aku sudah bilang kalau ada kemungkinan kamu pulang besok.” Ia kemudian mengganti film yang sudah selesai dengan film yang aku sukai.
“Dan ia mengijinkanmu?” aku menatapnya tak percaya.
“Ya, dengan mudah sekali. Oh iya kamu lihat film dulu sendirian taka pa kan? Aku ada beberapa urusan dengan seorang tamu dari luar negeri. Tapi kalau bosan silahkan berjalan-jalan.” Kemudian ia mengecup keningku dan meninggalkan ruangan itu.
Film tentang sciene fiction. Dua jam lamanya aku menonton film itu. Lama-lama bosan juga. Langit sudah gelap dan angin yang berhembus dari jendela yang terbuka juga bebrapa awan mendung yang kelabu nampak di langit. Sepertinya mau hujan. Aku berjalan ke jendela, aku mau menutupnya agar angin  dingin itu tak membuat perutku mual.
Kulihat dibawah ada seorang laki-laki mengenakan  jas formal warna hitam sedang bercakap dengan Jason di depan mobil. Seorang wanita bertubuh kecil namun berpakain formal juga, nampak membuatnya begitu tegas dalam tubuh mungil dan wajah cantiknya berada di samping laki-laki tinggi besar berambut cokelat di sampingnya. Aku tidak tahu bagaimana wajahnya karena hanya rambutnya yang terlihat. Lalu Jason menjabat tangan orang itu dan tersenyum pada perempuan itu.
Kemudian si perempuan membukakan pintu mobil dan berjalan menuju depan mobil, tapi si laki-laki mencegahnya dan memaksanya duduk dibelakang. Aku memperhatikan Jason yang tertawa kecil. Ada apa sebenarnya? Lamunanku terbuyar ketika kulihat Jason sedang mengawasiku dari bawah. Pipiku bersemu kemudian aku buru-buru menutup jendela dan kembali menenggelamkan diri diantara tumpukan bantal-bantal di sofa. Pintu terbuka dengan perlahan, kulihat ia masih nampak segar.
“Lama menunggu ya?” ia duduk di sebelahku.
“Tidak juga. Tadi itu siapa?”
“Hanya seorang teman yang terlalu serius.” Ia tertawa pelan. “Tidakkah kamu ingin tidur? Ini sudah malam.”
“Ya, aku mau.” Aku menguap lalu menatapnya. Ia duduk membelakangiku.
“Sini naiklah.” Aku langsung naik saja. Lumayan tidak usah jalan cepat demi mengimbangi langkahnya. “Beratmu hanya seperti tas ransel. Padahal makanmu porsinya besar sekali.”
Ia membawaku ke sebuah kamar, mungkin kamar tamu. Tapi kamarnya anak laki-laki sekali, dengan interior yang tidak terlalu rumit, banyak rak yang berisi buku-buku dan miniature mobil-mobil sport yang pasti harganya mahal.
“Aku akan meninggalkanmu untuk istirahat, Tuan Putri.” Ia membungkukkan badannya dan tersenyum jahil. Aku sempat mencubit lengannya. Kemudian aku berkeliling kamar, barangkali ada pintu rahasia atau apa. Tapi yang kutemukan justru kamar mandi di balik lemari pakaian.
Sejak tadi pagi aku belum sikat gigi. Pantas saja ada yang kurang. Aku membuka kotak yang kelihatannya ada berbagai perlatan mandi. Dan benar, ada sikat gigi kecil. Aku mengambilnya dan memulai ritual tidurku.
Setelah selesai aku kelaur, memeriksa lemari pakaian rahasia yang jadi pintu kamar mandi. Ya ampun, ada baju-baju Jason disitu. Mulai dari seragam SMA dan baju santai dan masih banyak jas formal di sana.
Menilik isi lemari ini kukira ini kamarnya. Lalu ia tidur dimana? Pikiran itu mulai menghilang seiring rasa kantukku yang semakin menyerang. Kurebahkan diri, rasa nyaman semakin membuaiku dalam tidur.

Ketika aku terbangun hari masih gelap. Jam 5 pagi. Kulihat ada sekotak kardus dibungkus rapi  di sudut tempat tidur. Aku membukanya yang ternyata isinya adalah pakain. Itu sebuah gaun santai warna biru. Cantik sekali.
“Pakailah, kita akan pergi ke air terjun di hutan belakang rumah. Agak jauh jika ditempuh dengan jalan kaki, tapi jika dengan mobil mungkin hanya 15 menit. Mandilah yang segar. Kita bertemu di bawah satu jam lagi.” Aku kaget ketika kulihat Jason sudah ada di depan pintu yang terbuka.
“Bagaiman kau ada disitu?”
“Ini rumahku. Memangnya kenapa? ini juga kamarku.” Benar kan. Ia mendekatiku. “Bagaiaman tidurmu?”
“Nyenyak sekali. Kalau dirimu?”
“Aku tidak bisa tidur karena memikirkanmu ada di sini. Tapi aku tidak bisa melihatmu tidur.”
“Hm.. Apa yang kita lakukan hari ini?”
“Berjalan-jalan, aku kan sudah bilang kita akan ke air terjun. Sekarang mandilah. Aku akan menyiapkan sarapan.”
“Kamu bisa memasak?”
“Tentu saja.” Dan ia pergi.
“Sudah siap?”
“Tentu saja.” Gaunnya sangat pas di tubuhku. Ia memberiku topi yang lebar. “Sayang, aku tidak bawa kamera.”
“Tenang saja. Ayo kita berangkat.”
Air terjunnya sangat indah, namun di sini sepi sekali. Hanya ada beberapa orang. Dan kami berdua. Kulihat Jason mengeluarkan kamera yang selama ini tidak mungkin kalau kebeli dengan uangku sendiri.
“Kamera yang bagus. Boleh aku mencobanya?”
“Ya , tentu saja.” Aku mengambilnya dengan hati-hati takut merusaknya. Aku langsung mengarahkan kea rah air terjun itu. Tanpa sadar aku sudah menghabiskan separuh memorinya.
“Bagaimana menurutmu?” aku memperlihatkan hasilnya pada Jason.
“Bagus, hanya ada yang kurang.”
“Apa?” aku mengernyit.
“Kamu. Berdirilah di sana.”
“Dimana?”
“Di batu besar itu. Ya disitu.” Oh-oh dia menjadikanku modelnya.
“Tunggu dulu, aku bukan model yang bagus kalau difoto.”
“Sudahlah diam saja. Alihkan wajahmu ke air terjun. Berpura-pura saja aku tidak disini sedang mencoba merayumu.” aku cemberut, namun tetap saja kuturuti perkataannya.
Ia memberiku beberapa instruksi lagi. Kemudian Jason memanggil Pak Edward lagi. Ia memberikan instruksi kemudian menyerahkan kameranya kepada Pak Edward.
Jason berlari kecil menghampiriku. Ia memelukku dan ternyata Pak Edward sedang mengambil gambar kami yang sedang berpelukan. Tentu saja pipiku merah karena malu. “Tidak usah malu, sayang. Edward kan bukan orang asing.” Agak lama kemudian Pak Edward memberikan kameranya lagi pada kami. Aku melihat hasil foto-foto kami tadi. Karena mungkin kameranya bagus dan banyak objek menarik disini, gambarnya banyak yang bagus. Dan kemudian ada banyak fotoku dengannya yang di luar dugaan sangat hidup. Entah kenapa aku merasa pertama kali dalam hidupku bahagia dan manis.
Jason sungguh luar biasa, ia berhasil mengubah hidupku 180 derajat. Dari yang tidak tahu bagaimana mencintai menjadi tahu. Dari aku yang datar menjadi bergelombang. Menyenangkan sekali mengetahui ia ada disisiku selalu. Dan kalu suatu hari ada perpisahan aku ingin waktu membekukanku, aku tidak mau menjalani waktu yang menyakitkan tanpanya.

No comments:

Post a Comment