Monday, July 8, 2013

CAPTURE HEART 1



BAB 1


Semua hal di dunia ini datar, normal. Sangat biasa. Itulah hidupku. Mungkin tidak semuanya, ada bagian dalam hidupku yang sangat tidak normal dan luar biasa. Jadi bersyukurlah kalian yang hidupnya tidak normal, karena pengalaman-pengalaman itu kalaian dapatkan justru lebih banyak di kehidupan yang tidak normal.

Namaku Kinanthi Purie. Semua orang memanggilku Nan. Aku seorang perempuan remaja yang sedang terjebak di kelas dua jurusan Ilmu Sosial, kelas dengan sekumpulan anak hidupnya lebih berwarna dariku. Dan meskipun aku merasa terjebak, aku menyukainya.
Pagi ini hujan rintik-rintik membasahi bumi, mendung hitam menyelimuti. Hawa agak dingin, aku merapatkan jaketku, melindungi tubuhku dengan payung bening. Rumahku hanya berjarak 300 meter dari sekolah. Jalanan agak macet, genangan air dimana-mana. Membuat setiap langkahku menciptakan cipratan kecil air.
Untunglah kelasku berada di dekat gerbang, jadi aku tak perlu menyebarangi lapangan yang penuh dengan kubangan air. Dan lalu lalang orang yang hendak menuju kelas masing-masing. Aku masuk ke dalam kelas, seperti biasa mengucapkan selamat pagi kepada teman-temanku yang sedang ribut mengerjakan tugas yang diberikan seminggu yang lalu. Dan sudah kuselesaikan hari Selasa lalu. Bukannya sok rajin, hanya saja taka da kegiatan yang bisa kulakukan kecuali mengerjakan tugas.
Aku menuju bangku di pojok kelas, dekat jendela. Bangunan kelasku ada di lantai ketiga. Karena dekat gerbang jadi pemandangan yang terlihat adalah jalanan di bawah. Dan perumahan. Hari ini hujan, jadi cahaya matahari tidak dapat menembus jendela. Hari yang normal, tenang, dan sangat biasa. Aku mengeluarkan buku catatan sejarah. Menyampulinya dengan rajin. Membosankan sekali pelajaran ini, aku tidak pernah suka.
Tentang keluargaku, aku punya seorang ibu yang bekerja sebagai guru di sebuah SMP, seorang kakak laki-laki yang sudah menikah dan akan mempunyai bayi, seorang kakak perempuan yang sudah bekerja, dan hamper menikah, dan seorang ayah yang tidak ingin aku pikirkan.
Guru datang datang dan memulai pelajaran yang membosankan. Aku setengah mendengarkan dan setenagh memandang ke arah jalanan yang basah dan mulai lengang. Pelajaran berjalan seperti biasanya. Aku bukannya anak yang bodoh, hanya saja. Aku berpikir apa gunanya pelajaran ini bagi karirku kelak?
Jam 1 siang pelajaran berakhir. Aku memutuskan pergi ke taman kota. Saat ini mungkin masih sepi karena habis hujan. Aku membawa kamera digitalku. Memotret beberapa bunga yang basah terkena hujan. Hasilnya sangat memukauku. Meskipun tidak sebagus hasilnya fotografer yang professional, setidaknya aku senang, mengekspresikan diri lewat foto. Tapi bukan tipe orang yang suka foto sendiri. Aku lebih suka memotret objek selain diriku.
Disitulah, aku bertemu dengannya. Tubuh tinggi, badannya gak berisi, kulitnya putih tap tidak pucat, matanya berwarna kelabu, mirip mendung saat ini, dengan wajah yang sangat.. wow… dan rambut cokelat acaka-acakan.
Diama-diam aku memotretnya, menjadikannya objek dari karyaku. Dengan latar belakang taman yang kelabu. Entah kenapa sepertinya dia menyadari keberadaanku.
“Aku rasa kalau kamu mau mengambil fotoku secara diam-diam itu sangat tidak sopan.” Ucapnya lembut.

“Maaf, aku bukan paparazzi,” mataku menyipit,” dan kamu bukan artis.”
“Aku memang bukan artis, tapi aku lebih suka jika kamu bilang padaku dulu.”
“Maaf, kamu lebih menarik difoto ketika kamu tidak menyadarinya.” Ujarku.
“Dimaafkan,” ia tersenyum lembut” Jason” orang itu mengulurkan tangannya.
Tidak baik memberikan nama kepada orang yang beberapa detik yang lalu memperkenalkan namanya padamu. Tapi karena auranya yang begitu memikat membuatku mengucapkan namaku, “Kinan, panggil saja Nan.” Aku membalas uluran tangannya.
“Jadi, kamu seorang fotografer?” tanyanya. Ada nada mengejek di dalamnya.
“Bukan, itu hanya hobi selingan. Biasa saja, semua orang suka foto.”
“Boleh lihat?”
“Tentu saja,” ia membimbingku ke kursi taman. Aku menyerahkan kameraku kepadanya.
Ia melihat gambar-gambar di layar kamera. Sesekali keningnya berkerut, sesekali ia menggumam dalam bahasa yang tidak kumengerti. Sebenarnya orang ini bule nyasar dari mana?
“Melihat hasilnya kau memang cocok untuk pekerjaan itu. Semua ini indah, kamu berhasil menyampaikan maksud dari foto ini dengan sukses.” Ia tersenyum tulus. Nada arogan dan merendahkan yang tadi kudengar hilang.
“Entahlah, sepertinya aku hanya ingin melanjutkan hidupku dengan pekerjaan normal.”
“Terserah kamu, Nan. Kalau kamu berminat, kamu bisa mengirimkan salah satu foto untuk dilombakan, mungkin dipamerkan akan lebih tepat.”
“Aku belum pernah mengikuti kompetisi sebelumnya.” Ungkapku jujur.
“Mungkin besok sore kita bisa bertemu lagi di sini, aku akan membawakan formulirnya.”
“Terima kasih, Jason.” Aku tidak tahu harus berkata apa lagi. Orang ini baru saja kukenal 15 menit yang lalu, dan sekarang aku duduk sangat dekat dengannya. Seharusnya ini tidak benar. Dia orang asing. Bagaimana kalau ia punya niat jahat? Tapi pikiran itu tertutupi oleh semua pesona Jason.
“Aku harus pulang, ibuku pasti mencariku.” Aku merapikan kembali kameraku. Lalu memakai tas ranselku.
“Sampai jumpa, Nan.” Ucapnya lembut,”sampai bertemu lagi.” Ucapnya penuh makna.
Aku melangkah pergi dengan gamang. Ada yang aneh, perutku seakan dililit rasa mulas yang nikmat. Seakan langkahku kurang cepat untuk meninggalkan taman ini dengan segera.
Dan aku tidak tahu apa yang sedang terjadi padaku, apa yang sedang meracuni pikiranku. Sesampainya di rumah sebagian pikiranku sudah tercemari oleh Jason. Ada yang berbeda di hidupku, ada warna baru di kehidupanku yang normal. Dan kenyataan itu tidak membuatku terlalu senang.

No comments:

Post a Comment