Monday, July 15, 2013

CAPTURE HEART 6



BAB 6

Musim liburan telah tiba, kami semua naik ke kelas XII, berita buruknya adalah Jason pisah kelas denganku, padahal aku tidak tahan kalau tidak bersamanya. Tapi tak apalah. Karena dia tetap bersikap sama saja. Oh iya, drama kami mendapat penghargaan drama terbaik, penataan  panggung terbaik, dan cerita terbaik. Di luar target kami.

Setiap hari selama liburan Jason datang ke rumah dari pagi hingga malam menjelang. Ibu dan Ris sampai heran melihat Jason betah sekali mengunjungiku. Tapi aku senan, karena Jason mengenal keluargaku dengan lebih dekat. Tapi, aku belum mengenal Jason sejengkalpun. Dimana dia tinggal, orang tuanya bagaimana, kehidupannya selain denganku seperti apa. Hal-hal sepele itu begitu menggangguku.
Dalam hatiku yang terdalam aku berharap dia hanya seorang berdarah campuran yang biasa saja. Aku takutb bila ia terlalu luar biasa aku akan pudar olehnya. Hari ini rencananya ia akan mengajakku ke suatu tempat. Ia sudah meminta ijin pada Ibu, dan Ibu dengan mudahnya percaya. Sehebat apa orang ini dalam mempengaruhi orang.
“Kita naik bus saja ya?” waktu itu aku memaksa naik bus.
“Kenapa? perjalanannya agak jauh. Tidakkah nanti kamu lelah?” ia mengelus pipiku. Saat itu kami sedang berada diteras rumah, bermain catur.
“Aku sudah terbiasa, Jason.” Aku memperingatkannya.
“Baiklah, Nona.” Ia mengacak rambutku.

Dan sekarang kami duduk di sebuah bus menuju ke pusat kota. “Sebenarnya kita akan kemana?”
“Lihat saja.” Ia tersenyum jahil.
“Ayolah, Jason. Apa maksudnya semua ini?” aku mencubit telapak tangannya kecil-kecil. Tetapi ia malah meringis geli daripada kesakitan. Ia melingkarkan lengannya di bahuku, lalu menyenderkan badannya sepenuhnya kepadaku.
“Nyaman sekali.”
“Jaon, kan malu. Banyak orang.” Aku berbisik. Takut ketahuan penumpang lain. Untungnya tempat duduk kami agak tersembunyi di pojok.
“Biarkan saja.” Ia mempererat pelukannya.
Aku menghela nafas. Ia memelukku erat seolah aku akan pergi darinya saja. Tapi aku tidak mungkin bisa beranjak dari sisinya. Aku akan selalu membutuhkannya. Mungkin bukan dalam hal fisik atau materi. Tapi secara batin, keseluruhan aku sangat membutuhkannya.
Tapi ia mungkin membutuhkan orang yang lebih daripada aku mengingat terlalu “sempurna” ia. Sampai saat itu tiba aku harus sudah mempersiapkan hatiku ketika ia sudah bosan dan pergi meninggalkanku. Meski dalam hati kecilku, aku berharap  dia tidak akan pernah pergi dari sisiku. Dari hatiku.
Jason benar, perjalanannya agak lama. Tubuhku agak pegal tapi tidak terlalu terasa karena ada yang lebih membuat yang lain terasa.kami sampai di sebuah gedung kecil. Sepertnya sebuah gallery. Tapi galeri apa? Dari depan desainnya minimalis tapi berkesan mewah.
“Ini tempat apa?” tanyaku.
“Galeri Seni Makrecif, tempat semua karya Madam Makrecif.”
“Siapa lagi dia? Lalu kenapa harus kesini?”
“Karena. Aku harus mengunjungi seorang teman.” Ia menarik tanganku lembut, membimbingku masuk ke dalam.
Semua isinya adalah foto. Aku piker akan menjumpai lukisan abstrak yang tidak aku mengerti maksudnya. Mulai dari foto remeh sampai yang bagus sekali. Tapi satu hal yang aku tahu. Ini semua berharga. Mungkin terlihat sepele ketika dilihat hanya sekelebat mata. Tapi jika diamati lebih lama ada makna dan bentuk yang berbeda.
Mana sih temannya Jason. Dari tadi Jason hanya membawaku berkeliling saja. “Teman kamu yang mana? Daritadi kita keliling terus?”
“Sebentar, ada yang ingin kuperlihatkan.” Ia menyeretku seolah aku ini apa saja.
Ia membawaku ke ruangan yang laon. Lebih kecil memang. Tapi desain ruangan ini yang paling indah. Perpaduan budaya eropa abad ke 15 dan budaya asia. Ada berbagai macam foto di sini. Ketika aku melihat foto-foto itu. Mataku terpaku pada satu foto. Aku tidak mungkin salah mengenali. Aku yakin siapa yang ada dalam foto itu. Itukan aku. Duduk di sebuah kursi taman sambil membawa kamera di leherku dan sedang tertidur dengan kepalaku menunduk kebawah.
“Jason..” aku tidak mampu berkata apa-apa lagi.
“Iya sayang itu memang kamu. Kau mungkin bertanya-tanya kapan aku mengambilnya.”
“Aku memang tidak ingat aku pernah berpose untukmu. Lagipula aku fotografernya di sini.” Aku melipat kedua tanganku, mengangakt alisku meminta penjelasan.
“Nanti, sayang. Sekarang kita temui temanku itu.”
Ia membawaku kepada seorang wanita separuh baya. Sepertinya orang ini juga campuran kentara sekali dari kulitnya yang putih langsat namun aksen wajah bulenya tidak bisa tertutupi. Penampilannya sangat chic, tapi kesan feminimnya tidak bisa ditutupi.
“Hai, Bibi.”
“Hai, keponakanku sayang. Oh rupanya kamu telah membawanya.” Ia tersenyum. Senyum yang anggun tapi berkesan ramah dan sopan. Tapi apa maksud percakapan mereka?
“Oh iya, Nan. Ini adik dari papa di Belanda. Dia pemilik galeri ini. Kamu ingat waktu aku memberimu formulir kontes foto itu/”
Aku menganggukan kepala. Jason memang pernah memberikan dataku ke panitianya. Tapi apakah yang mengadakan itu semua bibi Jason ini ya?
“Bukan, tapi beliau ini salah satu jurinya. Itu lomba bertaraf internasional. Tapi sayangnya fotomu belum mampu menjadi pemenang. Hanya saja mereka tetap memamerkan karyamu di Den Hag sana.” Ia tersenyum.
Apa? Apa yang barusan ia katakana? Ya Tuhan, ini tidak mungkin. Lolos kurasi di tingkat setinggi itu. Ini pasti mimpi. Aku mencubit lenganku, tapi tetap terasa sakit. “Serius kamu, Jason?”
“Ya, tapi jangan putus asa. Bibiku ini melihat potensi pada foto-fotomu. Ia mungkin menawarimu untuk bekerja bersamanya.”
“Apa?’ mataku membulat. Ini benar-benar di luar pikiranku. Ya Tuhan terima kasih atas nikmat yang Engkau berikan kepadaku.
“Ya, Nan. Tapi tak perlu khawatir. Kamu hanya perlu mengirim hasil pekerjaanmu lewat internet.” Ia tersenyum geli, melihat ekspresi bingung campur senang di wajahku. “Mari kita ke ruanganku.”
Jason menggandeng tanganku, meremasnya lembut. “Sayang, setelah ini ayo kita sedikit bersenang-senang.” Ia tersenyum padaku, matanya menatapku dengan intens. Apa yang ada dipikiran orang itu? Awas saja berani macam-macam.
“Apa?” aku mengarhkan pandangan menantang padanya,”Awas saja kalau macam-macam. Kupatahkan lehermu.”
“Kamu piker aku bakal apa?” ia tersenyum jahil, seoalah tak peduli dengan tatapan galakku.
Ternyata ia mengajakku, ke sebuah teluk di kota itu. Indah sekali, dengan matahari masih belum mendekati batas cakrawala. Kami akhirnya memutuskan ke sebuah kafe di dekat sana. Oh iya tadi kenapa ada fotoku di galeri? Sesuatu yang harus kutanyakan.
“Jason..” aku memanggilnya. Saat itu seorang laki-laki menawarkan menu kepada kami.
“Kamu pesan apa?”
“Apa saja terserah.”aku mulai tidak sabar.
“Kalau begitu..” ia mulai menyebutkan minuman dan makanan kepada pelayan itu. Aku mengetukkan jari ke kursiku. Lalu mengalihkan pandanganku ke pantai.
“Jason aku..”
“Pemandangannya indah ya?”
“Oke, kalau tidak mau mendengarkanku aku tidak akan berbicara padamu.”
“Baiklah-baiklah. Sekarang apa?”
“Bagaimana bisa? Kamu bertemu denganku saat kelas XI kan? Tapi aku yakin waktu itu aku masih kelas X. bagaimana mungkin?” aku nyaris berbisik.
“Maafkan aku, Nan. Sebenarnya sudah 4 tahun yang lalu aku mengenalmu.” Ia mengulurkan tangannya ke tanganku, memainkan jemariku.
“Apa?” ya ampun, Jason. Bagaimana bisa?
“Ya, sejak aku datang ke taman itu dan melihatmu, aku sudah sangat yakin bahwa aku jatuh cinta padamu. Sejak itu aku selalu datang ke sana. Mengamatimu diam-diam. Seperti seorang penguntit saja.” Ia menundukkan kepalanya.
“Tapi aku merasa kalau pertemuan kita itu yang pertama.’’
“Tidak, aku hanya baru menunjukkan diriku waktu itu. Percaya atau tidak, Nan. Aku sudah lulus kuliah sebenarnya.” Ia tersenyum.
“Apa?” ya ampun banyak sekali hal yang tidak kuketahui tentangnya. Dan fakta dia sudah lulus kuliah tapi masuk lagi ke SMA membuatku melongo. Pantas saja selama ini dia terlalu dewasa untuk ukuran anak SMA, terlalu pintar.
“Aku masuk ke sekolahmu hanya karena aku ingin dekat denganmu setiap hari, aku menggunakan segala cara. Untungnya orang tua Arista adalah sahabat dekat orang tuaku. Jadi mereka menolongku, mereka sudah menganggapku seperti kakak Arista. Aku marah ketika Agung mendekatimu. Ya aku cemburu, coba saja kalau Camryn tidak datang pasti kamu akan terus berada di bawah pengawasanku.” Pelayan datang menata makanan kami. Selanjutnya kami makan dalam keheningan. Sampai kami kembali ke teluk matahari sudah akan kembali ke peraduannya di belahan bumi yang lain.
“Maafkan atas semua kebohongan ini, Nan. Memisahkan kelasku dan kelasmu juga bagian rencanaku. Tapi kamu belum boleh tahu.”
“Tadi kau bilang, bahwa kamu jatuh cinta padaku?”
“Dengan seluruh jiwa ragaku, sayangku.” Ia memejamkan matanya.
“Kau sudah membohongiku dan itu tidak bisa dimaafkan dengan mudah, Jason.”
“Ya, aku tahu sayang. Maafkan aku.”
“Tapi aku, juga jatuh cinta padamu.”aku mengakuinya. Akhirnya.
“Apa, Nan? Katakana sekali lagi?” ia menyentuh kedua lenganku, aku agak sedikit terguncang, namun aku tetap tersenyum.
“Aku jatuh cinta padamu sejak kau pura-pura memarahiku karena mengambil gambarmu, Jason.”
“Ya Tuhan…” ia memelukku sangat erat. Orang-orang di sekitar kami memandangi kami dengan heran.
“Lepaskan Jason, ini tempat umum.” Ia tersenyum lebar. Sepertinya bahagia sekali, tapi aku lebih bahagia lagi.
Ya, kami mengakui perasaan masing-masing. Aku sangat bahagia melebihi apapun yang aku rasakan. Aku bersyukur Tuhan telah mengirimkan Jason untukku. Merubah kehidupanku yang biasa tanpa warna yang berarti  menjadi sangat berwarna. Aku tidak tahu kapan aku sadar penuh aku mencintainya. Tapi satu hal yang pasti aku mencintainya karena Tuhan menghendakinya, aku tahu ada rencana besar di baliknya.
Cinta, aku belum mengenal kata itu hingga Jason datang padaku memberikan sebentuk cinta yang berbeda dari yang biasa kudapatkan. Dan aku mungkin akan terus mencintainya hingga Tuhan menghentikan rasa cintaku padanya.
Ketika cinta telah termiliki dan dimiliki, harapan sang pemilik cinta hanyalah agar cinta itu tidak akan pernah pudar, hilang, atau teralihkan. Dengan segenap kesadaranku aku bahagia.

No comments:

Post a Comment