Wednesday, July 24, 2013

CAPTURE HEART 9



BAB 9

Hari ini aku mengajak Daniel, keponakanku. Anak Hans dan Erika. Kami pergi ke taman dekat rumahku. Aku sudah tidak sakit lagi ketika mengunjungi tempat-tempat tertentu sejak kejadian malam sebelum aku ujian Negara.

“Tante, beli kembang gula yang disitu ya?” ia menarik sweterku.
“Boleh, tapi janji satu hal. Setelah makan permen harus..?”
“Sikat gigi!” ia tersenyum lebar. Aku merogoh dompetku dan memberinya selembar uang dua ribu rupiah. Kamudian Daniel berlari dengan riang ke tukang penjual kembang gula itu. Aku kemudian mencari bangku yang nyaman untuk makan kembang gula.
Daniel kembali membawa kembang gula berwarna putih caramel. “Terima kasih, tante.”
“Sama-sama, sayang. Aku mengelus rambutnya dengan sayang. Meskipun statusnya hanya keponakan, tapi ia sudah seperti “anak” ku. Tentu saja aku tak memanjakannya setiap hari. Ada saat-saat aku membelikan apa yang ia mau karena suatu hal yang baik telah ia lakukan.seperti tadi, ketika Erika sedang berada di luar pulau menjenguk orang tuanya dengan Hans. Dan Daniel tidak bisa ikut karena ada ujian semester. Ia anak yang jenius. IQnya sudah mencapai 140 di usia 8 tahun. Tak heran ia selalu mendapat juara kelas atau yang lain. Bibit dari Hans dan Erika benar-benar berkualitas.
Aku mendengarkan Daniel mengoceh tentang semua hal yang ia temui hari ini. Mulai dari anak ayam yang nyasar ke dalam kelasnya saat ulangan matematika, sehingga semua murid tidak bisa berkonsentrasi pada soal-soal mereka. Sehingga mereka harus pindah ruangan. Dan masih banyak lagi cerita-cerita konyol Daniel. Aku mendengarkan dengan penuh minat. Kadangkala cerita Daniel mampu memberiku inspirasi untuk menulis.
“Kata Papa, dulu waktu SMA tante sering main ke sini ya?”
“Ya, Daniel. Memang kenapa?” aku mulai cemas jika Hans menceritakan iapada Daniel.
“Aneh tante.” Syukurlah.
“Aneh?”
“Iya, seharusnya remaja seusia tante kan mainnya ke mall, ke bioskop.” Ya ampun dari mana anak sekecil ini tahu tentang kehidupan orang remaja?
“Darimana kamu tahu hal-hal seperti itu, Daniel?”
“Kakaknya Johan. Dia anak SMA. Dan Johan selalu cerita tentang kebiasaan kakaknya. Johan bilang kakaknya populer di sekolah. Jadi waktu aku tahu tante mainnya nggak sama kayak kakaknya Johan aku piker tante aneh.”ia menatapku dengan mata cokelat gelapnya.
“Sayang, kita tidak pernah bisa membandingkan kehidupan seseorang lebih baik atau tidak.” Aku mengusap rambutnya yang berantakan.
“Kenapa memangnya ?”
“Karena setiap orang memiliki hidupnya masing-masing, dan mereka semua setara, sayang.” Kulihat Daniel menganggukkan kepalanya. Seolah ia sangat mengerti. Walaupun ia termasuk anak yang cerdas, penampilannya tidak cupu untuk ukuran anak kelas 2 SD. Ia bahkan lebih keren dari teman-temannya ketika aku ikut Hans mengambil rapot Daniel aku melihatnya dikelilingi teman perempuannya. Sepertinya dia sangat populer. Tapi dia dengan kejamnya tak memperhatikan semua teman-temannya itu dan malah bermain dengan anak laki-laki. Mirip dia.
“Ayo pulang?”
“Iya, Tante.” Aku menggandeng tangan Daniel. Untuk beberapa alasan dia menjadi pelipur laraku ketika “dia” sudah pergi menjauh.
Ibu sangat senang jika Daniel menginap di rumah. Jelas, cucu pertama. Daniel seperti pusat dari keluarga kami. Walaupun kami tak memanjakannya, tapi kami semua sayang padanya. Telepon genggamku bordering. Kulihat Hans yang menghubungiku.
“Halo, Hans.”
“Halo, Nan. Ibu mana?”
“Ini disebelahku. Mau bicara? Aku kasihkan teleponnya ke ibu.” Aku menyerahkan teleponnya ke ibuku. Aku melihat ibu mengernyitkan dahi, dan bebrapa kali mengangguk dan menjawab “iya”. Ibu menutup teleponnya. Pandangannya agak cemas. “Ada apa. Bu?”
“Orang tua Erika, kondisinya semakin parah. Ayahnya sering mengigau tidak jelas. Dan ia ingin bertemu Daniel.” Oh ya Tuhan.
“Lalu?”
“Hans meminta agar kamu mau mengantar Daniel ke Bali.” Aku menghela nafas. Apa salahnya membantu Hans? Aku bisa minta cuti ke kantor mala mini. Tinggal telepon Pak Andre. Semua beres.
“Baiklah, aku harus mengurus cutiku dulu. Besok pagi kita ambil penerbangan yang pertama. Kasihan jika Daniel harus berangkat malam ini juga.” Ibu mengangguk ia kemudian meraih Daniel dan entah membicarakan apa.
Aku memanggil nomor Pak Andre. Lama kemudian baru diangkat. “Halo, Kinan. Ada apa?”
“Begini, Pak. Maaf malam-malam mengganggu. Tapi saya ada keperluan mendadak dan mendesak.” Aku menceritakan masalahku kepada Pak Andre.
“Lalu?”
“Saya ingin meminta cuti selama seminggu, Pak.” Lama ia terdiam. Sampai kemudian suara batuk orang tua terdengar tertahan.
“Bapak tidak apa-apa?”
“Ya. Boleh saja, Kinan. Tapi saya rasa kamu tidak perlu mengambil cuti. Dengan syarat. Kamu harus mewawancarai seorang pengusaha Resort nomor wahid di Indonesia, sekarang dia ada di Bali. Rincian tugasmu akan aku kirimkan di email. Mungkin hanya butuh dua hari. Aku sudah mengatir jadwal. Jadi selain dua hari itu. Kamu bebas.” Wow. Keberuntungan yang tak terduga.
“Baik, Pak. Terima kasih.” Setelah berbasa-basi sebentar aku langsung menelpon agen travel. Semua  diurus oleh mereka. Aku berangkat besok jam 7. Sekarang mengurus ijin sekolah Daniel. Aku menelpon langsung kepala sekolahnya. Mengatakan bahwa Daniel baru bisa melanjutkan ujiannya seminggu lagi. Awalnya kukira sulit berdiplomasi dengan orang ini. Tapi ia dapat menerima alasanku. Semua beres tinggal berangkat ke Bali.

Kami baru tiba di Denpasar jam 9 pagi. Mobilnya sudah menunggu. Aku menggandeng Daniel ke sana kemari. Kasihan anak ini. Tapi semangatnya seolah tidak surut. Di mobil aku mengeluarkan tab, mengechek email dari bos. Wawancara dilaksanakan 4 hari lagi jam 7 malam di resort pengusaha itu. Mr J. Rathbone Di pantai Balangan, kawasan Jimbaran. Semua bahan wawancara sudah siap, aku hanya perlu sedikit merevisi dan memolesnya. Sementara itu, aku akan membantu Hans sebisaku. Kami tiba di rumah orang tua Erika. Meskipun bukan asli penduduk sini tapi mereka tetap menghromati adat setempat. Sangat liberal sekali. Ayah Erika dirawat di rumah dengan berbagai alat penunjang kehidupan terpasang di tubuhnya.
Melihatnya aku sudah trenyuh sekali. Aku memeluk kakak iparku itu dengan sayang. Aku membiarkan kuluarga itu berkumpul. Aku pamit keluar dulu pada Hans. Walaupun susananya agak sedih tak bisa dipungkiri. Berada di Bali itu menyenangkan. Berasa jadi orang Indonesia asli. Budaya disini benar-benar dipertahankan.
Tetangga Pak Heri, ayah mertua Hans semuanya orang Bali asli. Ketika aku duduk di teras depan aku melihat gadis-gadis bali yang membawa entah apa di kepala mereka. Coba saja aku kesini bukan dalam keadaan seperti ini. Pasti sudah loncat kesana kemari. Mencari objek-objek menarik.
Hans menghampiriku yang sedang duduk melamun. “Ayo kuantar ke kamarmu. Setelah melihat Daniel, ayahku sedikit membaik.”
Aku mengikutinya. Kamarnya cukup luas. Dan bagus. Aku menyukainya. “Terima kasih, Hans.”
“Tidak, aku yang berterima kasih. Kamu sudah mau berbaik hati mengantar Daniel kemari. Aku tahu pekerjaanmu sebagai jurnalis pasti dituntut untuk selalu siap. Tapi malah membawamu kemari untuk urusanku yang seharusnya tidak penting bagimu.”
“Sudahlah, Kak. Aku kan adikmu yang paling baik di dunia.” aku memasang wajah tercerahku. Aku tahu perasaan sedih Erika juga dirasakan Hans, sehingga membuatnya sedih juga. Kemudian ia memelukku. Aku sayang dengan kakak laki-laki ku yang satu ini. “Lagipula, aku tetap tidak sepenuhnya tidak bekerja.”
“Maksudmu?”
“Ya, mereka tidak menghitung ketidakhadiranku sebagai cuti tapi sebuah pekerjaan.”
“Syukurlah.”
“Ya. Bagaimana dengan ayahmu, Kak?”
“Mengapa kau memanggilku, Kak sekarang?”
“Sesekal.” Aku nyengir padanya dan ia melemparkan bantal itu ke arahku.
“Dasar.”
 Kondisi Pak Heri sudah membaik, bahkan dokter sudah melepas alat bantu pernafasannya. Oh iya, ISTRI Pak Heri sudah lama meninggal. Kehadiran Daniel sangat membantu. Aku senang melihat mereka yang bahagia karena beban yang sedikit berkurang.
Empat hari telah berlalu. Hari ini waktunya aku bekerja. Aku tidak tahu siapa itu Mister Rathbone. Kata Pak Andre dia pengusaha muda yang sukses. Katanya artikel ini untuk mengisi rubric baru kami. Tentang bisnis di Indonesia. Yang aku diwajibkan untuk memakai pakaian formal. Rok hitam selutut dan kemeja putihku yang cantik.
Mobil dari kantor sudah menjemput. Aku membawa laptop, tab, kamera, dan beberapa berkas dalam sebuah ransel besar yang menggantung di punggungku. Aku menikmati pemandangan di Bali sepanjang jalan. Meskipun bukan pemandangan alam semua, namun pemandangan budaya di sini sungguh luar biasa indah.
Sampai kemudian aku tiba di sebuah resort mewah di daerah Jimbaran. Aku masuk kemudian menemui resepsionis. Aku membawa kartu pengenal dari perusahaan. Ia menelepon seseorang dan tak lama kemudian seorang pegawai datang, ia bertugas mengantarku ke tempat wawancara.
Kulihat orang ini sepertinya pandai mencari peluang bisnis. Terbukti dari pintarnya ia mencari lokasi, konsumen. Kami sampai di sebuah ruang santai. Angin pantai berhembus agak kencang. “Silahkan menunggu, Nona.” Ia pamit undur diri. Aku mengangguk lalu duduk di kursi tamu. Di meja sudah ada 2 gelas jus jeruk dan kudapan. Tunggu dulu. Jus jeruk? Biasanya orang asing walaupun punya darah Indonesia kalau ada acara resmi seperti ini mereka minum the. Dan bukannya jus jeruk. Mungkin orang ini aneh. Aku membayangkan kalau Mister Rathbone ini orang yang kuper, berkacamata, dan kaku.
Kudengar suara pintu terbuka. Aku berdiri untuk menjabat tangannya. Berusaha bersikap sopan. Namun, alangkah kagetnya aku. Laki-laki itu. Bagaimana aku bisa tidak tahu? Rambutnya masih tetap sama, mata kelabu yang menatapku tajam. Hanya saja ia terlihat lebih dewasa dari terakhir aku melihatnya. Tapi ada satu hal baru yang kulihat di mata kelabunya itu. Kemarahan yang luar biasa. Wajahnya datar.
“Hai, Sayang. Sudah lama sekali ya tidak bertemu.” Ia mendekatiku. Sepertinya dia sangat marah hingga aku melangkah mundur tanpa sadar ada perasaan takut. Tapi kemudian rasa takut itu berubah menjadi sebuah euphoria baru. Seolah lukaku yang selama ini terasa di setiap detiknya lenyap. Seperti luka itu tidak pernah ada.
Aku setengah berlari ke Jason. Menubruk tubuhnya yang besar dan keras. Aku menghirup aromanya, masih sama. Ia masih tetap hangat seperti dulu. Aku memeluknya sangat erat. Aku tak ingin ia tiba-tiba lenyap dari hadapanku lagi. Tangannya melingkupi badanku. Ia menenggelamkan wajahnya di rambutku yang sudah memanjang lagi.
“Kemana saja kau? Kau tak tahu rasanya aku jadi gila di setiap detiknya. Aku benar-benar hamper kehilanganmu.”
“Maaf.” Ia melepaskan pelukannya, tangannya memegangi kedua sisi kepalaku.
“Kenapa seolah kau menghilang? Apa kau sudah muak kepadaku? Apa kau sudah tidak percaya padaku?”
“Bukan begitu, aku hanya.. aku hanya…”
“Sayang, aku sudah bilang kalau kau tak mampu jangan menungguku?” dia benar. Aku hanya ketakutan..
“Tapi sepertinya aku terlambat. Seharusnya kau bilang kau tidak akan menungguku waktu itu.” Kini dia benar-benar melepaskanku.
“terlambat? Untuk apa?” akuu mengerutkan kening.
“Aku kembali ke kota untuk menemuimu setelah aku sempat kehilangan informasi mengenaimu. Email yang tidak kau balas dan lama-lama sudah diblokir. Dan dengan kesibukan luar biasa aku tidak sempat mencarimu lagi.”
“Dan kamu menyerah?”
“Tidak tentu saja. Aku menghubungi Arista untuk terus mengawasimu, ia bilang kau kembali seperti kau belum mengenalku. Aku tidak tahu bagaimana dirimu sebelum bertemu denganku. Aku berpikir bahwa kau lebih bahagia sebelum bertemu denganku. Lalu ketika ia tidak satu universitas denganmu. Aku tidak mendengar kabarmu lagi. Dan aku berpikir mungkin kau sudah melupakanku.” Kamu salah.
“Maafkan aku. Aku hanya takut.”
“Takut apa, Sayang?”
“Ketika bersamamu, kepercayaanku padamu sangat kuat. Tetapi ketika akutidak bersamamu kepercayaanku padamu melemah. Seolah kamu kekuatanku. Percayalah. Ketika kamu pergi, saat itu aku benar-benar takut.” Aku mwnangis. Sakit mengingat masa-masa itu. Kemudian ia merungkuhku lagi.
“Seharusnya aku tidak mengambil keputusan untuk pergi. Aku melakukan kesalahan besar. Aku mencintaimu, tetapi aku tidak bisa memilikimu.”
“Apa maksudmu, Jason?” aku mengotori jasnya dengan air mataku. Aku tersenyum kecut dalam hati.
“Aku kembali ke Indonesia, seminggu yang lalu. Tentu saja aku bisa langsung menemukanmu. Kemudian ketika aku melihatmu di taman bersama seorang anak laki-laki dan pandanganmu begitu…”
“Tunggu. Jadi kau ada di sana? Di taman itu ? kenapa kau tidak menemuiku, dasar bule.” Aku memukul ringan dadanya.
“Ya, aku terlalu pengecut. Tapi aku memang sebenarnya tidak berhak menemuimu. Mengingatmu sudah dimiliki oleh orang lain.”
“Oh, seandainya saja semudah itu aku dimiliki orang lain selain kau.”
“Apa? Lalu anak itu?”
“Anak Hans, kakakku. Ingat?”
“Ya. Ya Tuhan.” Ia memelukku erat-erat “Terima kasih.”
Ia melepaskanku, kemudian segenap perasaan ia meletakkan bibirnya di bibirku sekali lagi. Seperti dulu rasanya, bahkan lebih indah.
“Jelaskan padaku kenapa bosku bisa ikut campur dalam masalah kita.?” Aku menyandarkan kepalaku ke bahunya. Kami sedang bersantai di beranda. Dengan pemandangan pantai yang masih sangat sepi.
“Waktu aku berpikir mungkin masih ada kesempatan walau kau sudah dimiliki orang lain, aku melacak semua tentangmu. Hingga membawaku ke bosmu itu. Aku menjanjikan beberapa artikel tentang bisnisku kepada Koran tempatmu bekerja asala dia mampu membawamu kepadaku.”
“Kau memang tukang suap.”
“Tidak juga, mengingat sulitnya mengorek informasi dari perusahaanku. Kebetulan kau mengantar keponakanmu, jadi sekalian dia memanfaatkan kesempatan itu. Dan hari itu juga aku langsung terbang kemari.”
“Jadi ini semua sudah direncanakan?”
“Ya. Aku minta maaf harus seperti ini caranya.” Ia menghirup pergelangan tanganku. “Sekarang bisakah kau ceritakan apa masalahmu sehingga harus membuatku menderita sedemikian rupa seperti ini.”
“Aku juga menderita, lebih parahnya aku ketakutan.”
“Sayang..”
Kemudian kisahku mengalir, sangat sulit awalnya mengakui semuanya. Masa laluku, ayah, ibu. Semua kuceritakan. Hingga badanku bergetar. Ia memperhatikanku. lenganngya melingkari tubuhku seolah takut aku akan menjadi serpihan. Dan semuanya selesai.
“Nan, tahukah kamu. Mungkin ini semua sudah terencana,”
“Ya, aku kadang berpikir seperti itu.”
“Hidup tidak bisa melalui proses yang mudah. Terkadang sebelum merasakan kebahagiaan sesuatu yang sangat pahit, menyakitkan pasti mendera. Tuhan tahu, tapi menunggu. Ia yang menyusun ritme hidup agar lebih berwarna. Apa tantangan hidup jika tidak ada masalah/ apa jadinya hidup jika kesakitan tidak menjadi bagiannya? Tapi aku bersyukur tidak perlu berates tahun menunggumu kembali kepadaku.”
Aku bergelung makin rapat pada Jason. “Aku mencintaimu.”
“Aku tahu, dan aku juga. Aku tidak akan meninggalkanmu barang sedetikpun.”
“Ya, aku percaya.” Aku akan mempercayainya meskipun ia meninggalkanku beribu tahun lamanya.

No comments:

Post a Comment