Thursday, July 11, 2013

CAPTURE HEART 3



BAB 3

Hari ini kakak perempuanku, Priska, atau biasa kupanggil Ris datang bersama calon suaminya. Jarakku dan kedua kakakku sangat jauh, sekitar 9-10 tahun. Wajar kalau aku menjadi yang terakhir di rumah. Hari ini makan malamnya cukup istimewa. Masakan ibu semua serba Indonesia, mungkin sudah mewakili seluruh nusantara, mengingat ada masakan Padang, masakan Betawi, sampai makanan khas Sulawesi juga ada. Dan semuanya pedas. Itu bagus.

Aku makan dengan cukup lahap, kami bercanda sekeluarga. Ya seperti itulah, normal sekali. Setelah semua selesai makan aku bertugas membersihkan meja dan menyimpan makanan kembali dalam lemari es. Setelah selesai aku pergi ke kamar. Duduk diam di sofa.
Ketika kulihat di layar HP nomor tidak dikenal mengirim panggilan. Aku mengamatinya sejenak, mencoba mengenali nomor itu, lalu kuangkat. “Aku piker kau tidak tahu cara menerima telepon.” Sudah jelas kalau itu Jason.
“Aku hanya mencoba mengenali nomornya.” Kilahku. “Bagaimana kamu tahu nomor HP ku?”
“Aku punya kenalan di semua operator, jadi aku bisa tahu nomor telepon siapapun yang aku inginkan.” Ucapnya santai. “Pergilah ke halaman belakang. Aku ada disini”
“Apaaa?? Sejak kapan kau disitu?” aku menyibakkan tirai jendela di kamar yang llangsung menuju halaman belakang. Dan Jason ada disana, sedang duduk di pagar yang rendah sambil melambaikan tangannya. “Tunggu, aku kesana.” Aku mengakhiri panggilan. Lalu dengan langkah agak cepat menuju halaman belakang.
Di belakang rumahku ada sebuah tanah lapang yang luas. Jika ada perlombaan 17 Agustus di sini sangat ramai, tapi kalau hari biasa hanya lampu yang besar yang menyala di sudut lapangan.
Aku menghampirinya, nafasku agak terengah karena aku berlari ketika melintasi halaman. “Aku rasa kehadiranku disini cukup membuatmu senang.” Ia tersenyum jahil di keremangan lampu.
“Apaan?” aku mendengus kecil. “Ada apa?”
Ia memberi isyarat agar aku mengikutinya ke lapangan. “Entahlah, aku hanya ingin bertemu denganmu. Apa tidak boleh?” sekarang lampu itu mengenai wajahnya, sehingga ketampanannya terlihat jelas.
Aku bahkan kesulitan mengeluarkan kata-kata. Hanya mampu menatapnya. “Bukan begitu. Hanya saja…”
“Hanya saja apa, Nan?” ia memanggilku dengan akrab, menyenangkan sekali.
“Entahlah. Aku juga tidak mengerti.” Aku mendongakkan kepalaku ke atas, berusaha menatap mata kelabunya itu, mencari sesuatu di sana.
Ia tersenyum lalu mengusap lembut rambutku, “Ngomong-ngomong bagaiman kau menjelaskan rambutmu kepada keluargamu?”
“Aku bilang ada kecelakaan kecil, rambutku menempel di dinding yang masih bercat basah.” Aku mengernyit.
“Kupikir mereka tidak akan bisa percaya.” Ia tertawa.
“Kenapa?”
“Aktingmu sangat buruk, Nona.” Ia tersenyum , kali ini sangat santai.
Aku menyipitkan mataku, berusaha terliat galak kepadanya. “Dan sikapmu sangat menyebalkan, Tuan.”
Dan yang selanjutnya terjadi sungguh tidak terpikirkan olehku, ia meraihku dan meletakkan dagunya di puncak kepalaku. Aku baru mengenal Jason beberapa hari yang lalu, dan sekarang aku sudah berpelukan dengan orang asing ini. Aromanya harum, tidak seperti harum Hans, kakak laki-lakiku. Dan aku menyukainya, aku menghirup aromanya berussaha menyimpannya dalam ingatanku. Lama kami berpelukan seperti itu.
“Aku harus mengembalikanmu ke rumah sebelum hal-hal aneh yang lain terjadi.” Aku sama sekali tidak mengerti maksudnya. “Ayo, kuantar kembali ke rumah.” Ia menggandeng tanganku. Ia sangat santai dan menyenangkan. Aku ingin berada di sisi Jason. Selamnya. Sebagai sahabat yang saling menyayangi.
Orang rumah terkejut ketika aku yang tadi berada di dalam kamar tiba-tiba bisa masuk lewat halaman depan dan membawa seorang yang sangat menawan. Jaso sangat sopan, ia berpamitan pada ibu. Lalu pulang. Dan tentu saja aku langsung di interogasi oleh orang serumah malam itu. Tapi untungnya mereka mau mengerti bahwa Jason hanya seorang sahabat, aku meyakinkan ibu bahwa aku belum bisa jatuh cinta. Karena aku sendiri tidak tahu jatuh cinta itu bagaimana.
Keesokan harinya merekaagak terkejut dengan rambutku , lalu Bagus. Ketua kelas kami mengumumkan bahwa akan ada perlombaan drama antar kelas seperti tahun kemarin. Ajang bergengsi di sekolah kami. Yahun lalu saat kelas X, aku mendapatkan penghargaan penulis scenario terbaik. Waktu itu aku membuat cerita tentang Rama Shinta, dan kata mereka cerita pertempuran dengan Rahwana sangat apik.
“3 bulan lagi, teman-teman. Ada yang punya usul kita akan menampilkan apa tahun ini?” Bagus berdiri di depan kelas. Aura bijaksana terasa kental di kelas.
“Aku rasa kita harus membuat cerita yang benar-benar murni.” Arista mengucapkan pendapatnya dengan lantang.
Kuliaht Jason hanya memperhatikan dengan santai. “Kamu benar juga, Arista.” Kata Bagus. “Bagaimana, teman-teman?”
Banyak yang setuju dengan usulan Arista. Bisa kulihat senyum yang lebar terpatri di wajah cantiknya. “Tapi, Bagus. Kita membuat cerita apa?”
“Bagaimana kalau cerpen Nan saja.” Kella menyahut.
Apa? Cerpenku? Bagaiamana mereka bisa tahu kalau aku menulis cerita pendek?
“Bagaimana, Nan?”
“Boleh saja.” Aku tersenyum gugup.
“Sekalian saja kamu jadi penulis skenarionya. Kamu kan tahun lalu jadi yang terbaik untuk penulis skenario.” Ujar Delion.
Aku menghela nafas sejenak, lalu mengangguk. Tanda persetujuanku terhadap tawaran mereka. Selanjutnya mereka memilih para kru drama. Agung menjadi sutradaranya kali ini. Sehingga aku harus duduk berdua dengannya dan mendiskusikan jalannya cerita yang langsung dihadiahi Jason dengan tatapan mengancam.
Akhirnya kami sepakat memakai cerpenku yang berjudul “Apa yang salah?”. Ceritanya tentang jaman penjajahan Belanda. Ada seorang pribumi yang bernama Sekar Dewi. Yatim piatu yang kemudian bekerja sebagai pemetik teh. Hingga seorang Kompeni Belanda bernama Christopher da Bosch menemukannya dalam keadaan pingsan di tengah kebun teh. Kemudian mereka jatuh cinta. Tapi petuah dari orang tua Sekar Dewi adalah “Jangan Pernah mencampurkan darahmu dengan orang-orang yang menyakiti bangsamu, Nak” hal itulah yang membuat pertempuran batin di hati Sekar Dewi. Hingga akhirnya ia menyerah ke dalam cinta kompeni itu.
Mereka sepakat kalau Christopher akan diperankan oleh Jason, walaupun sempat menolak, aku memaksanya. Merayunya kalau aku akan mengajaknya main ke rumahku lagi. Akhirnya dengan senyum masam ia mau. Kemudian Amanda, perempuan tercantik di kelas dipilih menjadi Sekar Dewi. Latihan dimulai besok sepulang sekolah. Sampai jam 4 sore. Setiap hari kecuali Minggu.
Aku punya kebiasaan baru, pulang bersama Jason. Ia naik angkutan umum kalau pergi ke sekolah. Jadi setelah mengantarku pulang, ia menunggu bus umum di jalan raya dekat rumahku. Aneh, ada bule naik bus. Aku jadi geli sendiri membayangkan Jason yang begitu menawan harus berdesakan di bus umum.
Hari ini sepulang sekolah, kami latihan drama yang pertama kali. Agung agak kesulitan mengarahkan Jason yang sengaja membuat dirinya tidak mengerti arahan Agung. Ia langsung kupelototi, dan ia menggelengkan kepala dan menuruti kemauan Agung. Naskah jadi lebih cepat dari yang seharusnya hingga hari ini kami bisa latihan. Semua berjalan lancar sesuai rencana. Jam 4 sore kami pulang sesuai jadwal yang sudah ditetapkan.
Sesuai janjiku pada Jason. Hari ini ia akan berkunjung ke rumah. “Aku ganti baju dulu, kamu tunggu dulu di teras.”
Ia tersenyum, aku meninggalkannya berganti baju secepat yang aku bisa. Celana outdoor dan kaus berwarna biru cerah. Kudengar ibu sedang bercakap-cakap dengan Jason. Kemudian ibu masuk ke dalam. “Nan, ditunggu temenmu. Ibu kedalam aja ya.”
“Iya, Bu.”
“Apa yang akan kita lakukan hari ini?” ia bertanay dengan nada yang lembut, membuatku serasa melayang.
“Entahlah, kita bisa bermain di lapangan belakang. Banyak anak-anak juga main di sana.” Aku tersenyum lebar. Sepertinya mengajak Jason jalan-jalan ke lapangan dengan cuaca cerah di sore hari adalah ide yang menyenangkan.
“Baiklah.” Ia menggenggam tanganku, mengitari rumah menuju halaman belakang. Kami bercanda, saling bertukar cerita. Menyenangkan sekali. Saat kulihat kerumunan anak sedang bermian sepak bola ia nampak cukup senang. Kami duduk di bawah pohon keres. Sambil memandangi anak-anak itu bermain bola.
Lengan Jason meraihku kedalam pelukannya, yang langsung di sambut kegirangan oleh jantungku. Hingga ia melepaskannya, seorang anak mungkin kelas 6 SD menghampiri kami sambil membawa bola. “Maaf, Kak. Kami tidak sengaja. Kakak tidak apa-apa?” ia bertanya dengan nada menyesal yang kentara. Aku baru sadar kalau tindakan Jason tadi untuk melindungi kepalaku dari tendangan bola yang melenceng.
“Tidak apa-apa.” Aku menjawab dengan senyuman tulus, meliaht penyesalannya.
“Bolehkah aku ikut bermain, dulu aku anggota tim saat SD.” Jason bertanya pada anak itu.
“Tentu saja, kami kurang 1 orang lagi.” Anak itu berkata dengan senyum merekah. “Aku Damar, salam kenal.” Kemudian Damar meraih tangan besar Jason dan menyeretnya sambil berlari ke tengah lapangan. Aku terperangah dengan kejadian barusan. Jason yang mudah dicintai semua orang.
Melihat Jason bermain dengan anak-anak itu membuatku nyaman. Aku sanagt suka Jason yang bebas dan santai seperti ini. Jauh dari kesan yang buruk. Jauh dari sikapnya yang tidak bersahabat. Dasinya dilepas, dan kemejanya sudah bernoda tanah. Tapi ia seolah tidak peduli. Dan malah berlanjut mainnya.
Oh iya, tadi di sekolah Casandra Cs seolah ketakutan ketika melihatku. Ada apa ya? Bukannya kemarin mereka yang menjahiliku habis-habisan? Aneh sekali, tapi ya sudahlah. Aku tidak peduli. Awalnya sangat disayangkan rambut panjangku terpotong, tapi ketika Jason mengatakan aku cantik meski dengan rambut pendek. Seoalah rambut cepak pun aku tidak peduli.
Ia menghampiriku dengan rambut dan penampilan yang berantakan, namun tetap membuat ppipiku memerah. Matahari sudah mulai terbenam. Aku rasa kami harus pulang sebelum ibbuku berteriak-teriak.
“Ayo pulang.” Aku bangkit dari tempatku duduk tadi.
“Hari sudah mulai sore, aku benci berpisah denganmu.” Ucapnya serius.
“Besok pagi kau bisa bertemu denganku. Kita menghabiskan waktu hamper 12 jam sehari dank au berat tidak bertemu denganku? Astaga Jason, untuk seseorang yang cukup wow di sekolah, kau cukup konyol.’ Aku tertawa. Hingga ia juga menyadari kekonyolannya.
Akhirnya aku dan Jason pulang. Ia dengan segala penampilan berantakan tapi menawan dan aku yang biasa-biasa saja cukup membuat sakit hati. Setelah minta ijin pulang kepada Ibuku. Aku mengantarnya ke jalan raya. Menunggu bus datang. Tapi ia menyuruhku pulang saja. Aku menurutinya, walaupun jujur saja. Berpisah dengannya juga  tidak menyenangkan.

Tiga minggu sudah berlalu, kami terus  berlatih, mencari keslahan yang mungkin bisa berakibat fatal keudian memperbaikinya. Menambah efek-efek agar drama kami terkesan tidak membosankan. Semuanya berjalan lancar. Semua efek itu dikerjakan oleh decorator dan penata panggung kami yang handal Keenan. Anak itu jenius sekali dalam bidang seni.
Saat hari berlalu dengan damai. Kabar buruk itu datang. Amanda kecelakaan. Kaki kiri dan tangan kanannya patah. Ia didaulat tidak bisa berjalan selama 2 bulan kedepan. Sementara kami semua kebingungan mencari pengganti Amanda.
“Maafkan aku, kalau saja aku tidak nekat mendahului truk itu. Pasti aku masih bisa berlatih bersama kalian.” Ia terisak-isak ketika kami sekelas mengunjunginya.
“Tidak apa-apa, Amanda. Kami tidak menyalahkanmu, kamu tidak perlu meminta maaf.” Keenan mengelus rambut Amanda. Kami yang melihat kejadian itu jadi curiga. Ada sesuatu antara Keenan dan Amanda.
Esok harinya kami berdebat siapa yang akan menggantikan Amanda. Sebenarnya Arista kandidat terkuat setelah Amanda. Tapi ia menolak, “Aku tidak mau. Titik.” Ia bersikeras.
“Kalau begitu, Nan saja bagaiman?” ujar Agung. Semua mata memandangku, awalnya hanya tatapan terkejut. Kemudian tatapan penuh harap. “Ia pasti lebih bisa mendalami peran Sekar Dewi, karena ia yang menciptakan karakter itu.” Ujar Agung bersemangat.
Jason menggenggam erat tanganku. Ia berbisik di telingaku,”Penuhi saja keinginan mereka, Nan. Aku tahu kamu mampu.”
“Baiklah dengan satu syarat. Liburlah 2 hari untuk latihan. Karena aku memastikan diriku tidak bisa hadir 2 hari itu.”
Seluruh kelas bernafas lega. Akhirnya ada korban pengganti Amanda. Sialan. Bagaiamana ini? Aku tidak bisa berakting. Apalagi acting menjadi perempuan yang lemah tapi sebenarnya kkuat. Ini bukan aku yang kuat namun sebnarnya sangat rapuh. Jason melihat wajahku yang khawatir.”Tenang, Nona. Tuan Jason akan membantumu.” Ia tersenyum lembut. Aku hanya mengangguk. Enath apa yang akan terjadi. Aku tidak pernah tahu.

No comments:

Post a Comment