Wednesday, July 31, 2013

Puncak Pertama : Lawu's Adventure



24 Desember 2011. Mungkin itu hari yang paling kunanti-nanti. Karena pada hari itu aku memulai pendakian pertamaku. Dan yang akan jadi puncak pertamaku adalah Gunung Lawu. Kesanalah kaki dan hatiku akan melangkah.
Pagi itu aku dan kawan-kawan PA Bhawana Jaya sudah berkumpul di depan musholla sekolah, kami akan melakukan pendakian bersama kawan-kawan dari Armopala. Dan juga beberapa orang. Total rombongan kami sekitar 24 orang.
Mas Qitux , Pembina PA kami menyewa sebuah angkutan umum untuk membawa kami ke terminal(karena perjalanan selanjutnya kami harus naik bis menuju Magetan). Tapi saat Pak Umar, kepala sekolah kami melepas kepergian kami, beliau meminjamkan mobil sekolah kepada kami untuk pergi ke terminal(dan  itu pertama kalinya sekolah member perhatian lebi kepada PA). karena kapasitas tempat duduk yang sangat terbatas. Jadi hanya yang perempuan saja yang diantar mobil sekolahan, ditambah pak ketua PA yang tiba-tiba saja sudah ada di pojokan mobil.
Lalu kami berangkat menuju ke terminal, sampai di terminal ternyata sudah ramai sekali bisnya. Kami menunggu sekitar satu jam lebih, tapi tak kunjung ada bis yang kosong. Akhirnya Mas Qitux menyewa bus untuk kami. Lalu kami berangkat menuju Magetan.
Awalnya perjalanan begitu menyenangkan, kami bercanda ria. Aku duduk satu bangku sama Mbak Nanda, tapi lama kelamaan keadaan menjadi sepi. Hanya Mas-mas dari Armopala yang masih “begejekan” dibelakang bis.

Sampai di Magetan, kami mengisi bensin di sebuah pom bensin. Pas saat bis berhenti, Mbak Gobez langsung turun dan muntah-muntah. Kami yang melihat kejadian itu tidak langsung menolongnya malah mentertawainya. Setelah agak reda baru kami menolongnya. Setelah itu aku dan beberapa teman lain pergi ke toilet pom bensin. Karena letak toiletnya dibelakang, kami agak kesulitan menemukan letaknya. Tetapi akhirnya toilet itu kami temukan, dan ad ataman yang indah dekat toilet itu. Ada 2 ekor anjing didalam taman itu, untunglah pagar taman  itu lumayan tinggi, sehingga anjingnya tidak bisa mengejar kami.
Setelah buang air kecil dsb. Kami melanjutkan perjalanan menuju Cemoro Sewu. Sepanjang perjalanan ke Cemoro Sewu kami dihadapkan pemandangan khas pegunungan yang asri dan indah. Hawa dingin mulai merasuk. Aku rapatkan jaketku. Dibawah saja sudah sedingin ini. Apalagi jika diatas nanti?
Beberapa puluh menit kemudian kami sampai di jalur pendakian Cemoro Sewu. Setelah menurunkan barang-barang kami, kami istirahat sebentar, lalu sholat ashar. Setelah sholat ashar kami makan dulu disebuah warung sederhana. Lalu tiba-tiba saja hujan turun dengan derasnya. Rencana awal pendakian yang awalnya kami mulai jam  4 sore jadi harus tertunda.
Aku berdoa dalam hati, supaya hujan ini cepat reda. Karena jika hujan tidak reda-reda kemungkinan perjalanan ini jadi makin berat. Akhirnya jam 16.30  hujan mulai reda. Kami membentuk formasi lingkaran dan mulai berdoa. Lalu kami memulai awal pendakian kami.
Jantungku berdetak cepat, karena ini adalah pendakian pertamaku. Aku belum berpengalaman apa-apa soal mendaki gunung,mungkin hanya sekian persennya saja. Tapi aku mantapkan hatiku dan dalam hati berkata:aku bisa, harus bisa, dan pasti bisa.
Lalu aku berjalan perlahan mengikuti irama nafasku. Jalanan mulai menanjak. Nafas semakin tersengal. Kulihat temanku Pitria nafasnya sudah sangat tidak teratur. Aku lalu menggegam tangannya dan menyemangatinya. Akhirnya kami berdua berjalan bergandengan bersama.
Air bekas hujan mengalir dari atas kebawah, membuat jalur Cemoro Sewu yang berbatu-batu menjadi licin. Kami harus sangat berhati hati.
Kami memasuki daerah yang banyak pohonnya, jadinya suasana semakin gelap saja sore itu, lalu tiba-tiba saja kami disuguhi hamparan padang bunga berwarna kuning(bayangkan seperti di film kuch kuch ho ta hai). Sungguh indah, saying aku tidak sempat berfoto, hanya Mas Akbar saja yang sempat berfoto, karena Mas Qitux menyuruh kami cepat-cepat agar sampai di pos 1.
Selepas kami dari padang bunga yang indah itu, rintik hujan  menemani langkah kami. Perjalanan semakin berat. Aku susah mengatur irama langkah dan nafasku. Aku berjalan perlahan, berusaha mengatur nafasku. Perlahan hari mulai gelap, jarak pandang hanya 0.5 meter. Aku berjalan sambil meraba-raba jalanan didepanku. Akhirnya kukeluarkan mata keduaku, yaitu. Senter. Benda ini adalah mata keduaku ketika di gunung atau tempat gelap.
Angin berhembus. Menambah dinginnya petang itu. Karena sebelum mendaki banyak verita kalau Gunung Lawu itu masih ada hubungannya sama Nyi Roro Kidul, aku jadi agak merinding, apalagi ketika jarakku cukup jauh dengan kawan-kawanku. Sesekali aku berteriak kepada kawan-kawanku, dan Allah mengjinkanku mendengar sahutan mereka.
Akhirnya sampailah kami di pos I. itu baru pos I, belum pos II tempat kami ngecamp nanti malam. Kami beristirahat sejenak disana, menunggu teman-teman yang ada dibelakang.
Aku minum lebih banyak saat di pos I, karena kami berhenti agak lama disini. Didepan pos I ada beberapa warung yang tutup. Aku tidak begitu terkejut dengan kehadiran warung-warung itu. Karena jauh sebelum pendakian ini, Ibu sempat bercerita tentang Gunung Lawu.
Selama beristirahat kami bertemu dengan pendaki lain, walaupun tidak saling kenal kami saling menyapa. Inilah keistimewaan yang tidak pernah aku dapat selain di gunung. Menyapa orang yang bahkan kita belum kenal. Seperti kita ini saudara. Itulah satu dari sekian banyak pelajaran moral yang aku dapat ketika naik gunung.
Akhirnya semua anggota kami berkumpul, lalu kami melanjutkan perjalanan ini. Kakiku sudah mulai pegal-pegal, nafasku sangat tidak keruan. Aku berhenti ,dan duduk di sebuah batu besar. Saat aku mengarahkan senterku kea rah batu besar dibawahku, ada pemandangan yang membuat hatiku agak miris.
Coretan-coretan tak bertanggung jawab tertoreh di batu itu. Tak seharusnya ada disitu. Kenapa ya ? aku bertanya dalam hatiku. Tapi sepi, tak ada jawaban. Mungkin hanya sesorang yang belum sadar.
Lalu aku lanjutkan perjalananku, saat menuju pos II, adalah saat-saat terberat. Karena jarak pos I ke pos II adalah jarak terjauh, sekitar 1,2 km. saat itu aku, Mbak Ina, Mbak Gobez, dan Mas Wardana berjalan bersama. Satu senter untuk 2 orang, itu dilakukan untuk menghemat baterai senter kami. Barangkali ada yang mati, senter lain masih ada.
Hari sudah gelap, nafas kami semakin tersengal-sengal. Aku kesulitan mengatur irama langkah agar seirama dengan nafasku. Biasanya  aku lakukan hal itu agar tidak mudah sesak nafas.
Lama-lama  aku merasa sangat lelah, padahal barang bawaanku tak seberapa banyak ketimbang senior-seniorku. Tapi aku terus berjalan. Selangkah demi selangkah. Peluh bercampur air hujan yang membasahi  menetes seiring langkah kaki menapak.
Senior-seniorku selalu berkata, “Ayo.. semangat … krang 2 tikungan” iya kurang 2 tikungan. Tikungan kanan dan kiri. Tapi itu selalu jadi motivasiku untuk terus berjalan. Saat kami berjalan, terdengar kabar bahwa Mbak Chum, tiba-tiba sesak nafas.  Aku tidak tahu bagaimana keadaannya, tapi sebenarany saat itu kami sangat khawatir.
Akhirnya terlihat pos II , walaupun sudah dekat. Rasanya masih jauh sekali, akhirnya kumantapkan hati lalu melangkah. 15 menit kemudian sampailaha kami di pos II. Alhamdulilah. Akhirnya kami sampai di tempat ngecamp. Di pos II juga ada warung.
Lalu kami mendirikan tenda, saat mas-mas sedang mendirikan tenda . mbak chum datang, kasihan sekali. Wajahnya sudah sangat memucat, saat dia duduk di sebuah batu, aku langsung berdiri dibelakangnya, berusaha menjaganya agar tetap hangat.
Tiba-tiba saja dia pingsan,berat badannya yang agak lebih berat dariku, membuatku sedikit kepayahan. Lalu aku meminta tolong, dan beberapa orang memberinya pertolongan, saat itu aku sangat cemas.  Tidak hanya aku, semua orang yang ada di pos II juga terlihat cemas. Akhirnya Mbak Chum sadar, ia dibawa ke dalam pos II. Udara sangat dingin saat itu, ditambah hujan yang turun cukup deras. Kami semua kedinginan malam itu.
Akhirnya kami membuka bekal makan yang sudah kami siapkan dari rumah, kami makan bersama, Om Pendik kebetulan membawa minuman bersoda(jangan ditiru). Lalu kami minum soda itu beramai-ramai, tiba-tiba saja Mbak Chum bangun, dia meminta untuk disuapin. Karena aku dan Mbak Chum duduk dibelakang Mbak Nanda, jadi kami berdua disuapin sama Mbak Nanda. Setelah makan malam, tenaga Mbak Chum pulih kembali ia kembali “begejekan” bersama kami.
Lalu ada yang berkata: “tibakne Chum keleson” sontak kami semua tertawa. Lalu setelah makan kami habiskan soda yang dibawa Om Pendik . lalu aku mendapat gelas yang beraroma seperti pewangi pakaian, berhubung sudah haus aku tidak peduli lagi.
Setelah itu kami punguti sampah kami lalu kami masukkan ke dalam tas. Setelah itu kami bercanda dengan beberapa pendaki lain. Didalam pos II ada 2 orang bapak-bapak dan seorang anak kecil kira-kira 10 tahun umurnya. Juga ada beberapa anggota pramuka.
Puas bercengkrama kami tidur, kami tidur bersebelahan dengan bapak dan anak tadi juga beberapa anggota pramuka.  Jam 11 malam bapak-bapak dan anak tadi melanjutkan  perjalanan disusul beberapa anggota pramuka.
Malam itu kami tidur berjejer  seperti ikan pindang. Dingin sekali malam itu. Mungkin inilah saat paling dingin selama 16 tahun aku hidup. Gigiku bermeletukan. Jaket  lapis 3 yang kugunakan seolah tidak cukup mengurangi rasa dingin yang menusuk. Hujan  turun dengan derasnya. Malam itu kami tidur berselimut dingin.
Aku ingin mala mini cepat-cepat berlalu, agar rasa dingin ini tidak semakinmenyiksaku. Tetapi setiap kali aku terjaga, jam masih menunjukan pukul 12 malam. Rasanya itu adalah malam terpanjang. Aku tidak berhenti menggigil. 2 orang cewek anggota pramuka yang memilih tinggal di pos II terlihat sangat kedinginan. Timbul rasa khawatir dibenankku. Mbak ini lebih butuh jaket daripada aku. Lalu aku bilang ke Mas Wildan mau pinjam jaket buat mbak yang tidur disebelahku.
Semua orang tidur berjejer dan berjubel, tidak peduli laki-laki ataupun perempuan. Karena bagi kami yang terpenting saat itu adalah kebersamaan. Tengah malam hujan mulai reda, aku terbangun lagi, rupanya Mbak Denok dan Mbak Gobez mau pergi buang air kecil. Mumpung ada barengannya aku memutuskan untuk sekalian buang air bersama mereka.
Saat selesai melakukan hak kami. Mbak Gobez berteriak kepada kami kalau bintangnya indah sekali. Dan sungguh luar biasa indah sekali hamparan langit diatasku. Seperti aku sedang berada di luar angkasa. Bintang-bintangnya banyak sekali. Tidak seperti yang ada di kota(dikota hampir tidak ada bintang). Gambaran singkatanya bias dilihat di Mbah Google dengan keyword “bintang”.hehehe .
Sungguh indah sekali pemandangan itu. Hal yang tak pernah aku dapatkan di luar gunung. Aku dapatkan di sini. Karena dinginnya udara kami segera beranjak menuju “tempat tidur” kami. Hujan yang berhenti turun tak mengurangi hawa dingin yang merasuk ke dalam tubuh. Kami semua sama. Kedinginan. Aku tak pernah semenderita itu. Tapi ada sensasi lain yang belum pernah aku rasakan sebelumnya. Dan itu jadi pelajaran berharga buatku.
Aku coba tidur kembali, tapi rasanya sulit. Aku tidak mengantuk. Lalu aku dan Mbak Gobez sempat berbincang, kami menikmati pemandangan langit. Hamparan langit Maha Sempurna, bertahta bintang-bintang angkasa. Mungkin itu lagu yang tepat untuk pemandangan ciptaanNya.
Lalu kamipun tertidur semua.
Keesokan paginya kami terbangun, udara dingin menusuk tubuh kami. Jaket semaki kurapatkan. Pagi itu kami membuat sarapan. Mas Wardana membuatkan kami teh. Lumayan buat menghangatkan badan. Setelah kami  berfoto, kami makan pagi. Kami sempat bercengkrama dengan beberapa pendaki lain disana.


Setelah beres-beres sisa sampah kami. Kami melanjutkan perjalanan menuju pos III. Perjalan ini terasa sangat menyenangkan. Karena cuaca cukup cerah, jadi rasanya berjalan tidak terlalu capek. Karena kami disuguhi pemandangan yang sangat indah. Selain itu para pendaki juga sangat ramah. Walaupun tidak saling kenal kami saling menyapa dan member semangat.
Tibalah kami di pos III. Disini kami istirahat, tapi tidak terlalu lama kami langsung melanjutkan perjalanan ke pos IV. Sepanjang perjalanan kami sesekali bercanda, beristirahat sejenak. Mengobrol smabil berjalan. Irama nafas dan langkahku juga sinkron.
Tenang, walaupun masih ada rasa lelah. Tapi tidak begitu berarti. Semua karena tertutupi rasa takjub akan keindahan alam ini. Sampailah kami di pos IV. Pos IV ini sangat sederhana. Hanya terdiri dari sebuah tanaman rambat yang dibentuk melingkar seperti bunga. Sam seperti di pos III tadi, kami juga tak begitu lama beristirahat.
Langsung cabut ke Hargo Dalem. Rencana kami akan ke puncak hari itu juga, karena hari belum terlalu sore. Rasanya Hargo Dalem jauh sekali, aku ingin segera sampai puncak.
Setelah dari pos IV, jalan yang kami lalui kebanyakan jalan landai. Beban semakin berkurang. Lalu tiba-tiba saja kabut menjadi tebal. Akhirnya kami memutuskan untuk beristirahat di sebuah warung. Kami makan , mengobrol, dan bercanda. Juga tak lupa kami berfoto.

Setelah kabut agak reda kami mulai melanjutkan perjalanan. Karena Gunung Lawu terkenal mistisnya, banyak penduduk yang melakukan ritual khusus disini. Makanya tak jarang aku dan teman-teman menemukan dupa, sesaji, dan kawan-kawannya.
Akhirnya kami sampai Hargo Dalem. Kami memasuki pondokan itu,lalu makan. Setelah itu kami sempat berfoto-foto di Rumah botol, letaknya persis dibelakang pondokan kami.

Setelah puas berfoto kami melanjutkan perjalanan menuju Puncak Hargo Dumilah. Kabut cukup tebal pada saat kami muncak. Tapi kami tetap melanjutkan perjalanan.

Aku bersama Mas Agung saat menuju puncak, kami mengobrol tentang Lawu. Lalu tiba-tiba terdengar suara Mbak Ina “WOOOOEYY…..PUNCAK…PUNCAK..AYO REGH!!!”. Entah apa yang terjadi, semangatku langsung naik, tenagaku menjadi semakin banyak, aku setengah berlari.
Dan akhirnya. Alhamdulilahirobbilalamin. Aku sampai puncak. Aku bisa. Hatiku sangat senang. Perasaanku tak karuan bahagianya. Ini puncak pertamaku, dan aku berjanji ini bukan puncak terakhirku. Aku akan terus naik gunung. Menikmati alam ini, mencintai alam ini.
Mas Anjar tiba-tiba menyalami kami, dan member kami ucapan selamat. Hore(meskipun bukan siapa-siapa).


Setelah puas berfoto. Kami kembali ke Hargo Dalem. Karena kabut sudah turun lagi, kami harus segera cepat-cepat kembali ke Hargo Dalem. Takutnya kami kesasar.
Lalu kami kembali. Setelah itu kami memasaka makan malam. Karena seniorku ada yang tidak ikut, dia member kami beberapa ransum tentara. Dan itu sangat isitimewa. Aku, Mas Cipeng, Mas Anjar, Mas Agung, Mbak Chum memakan nasi kaleng yang biasanya untuk tentara. Hehehe.
Sore itu kami mengisi waktu luang(karena  kami akan turun besok) dengan bermain kartu. Awalnya menyenangkan. Lalu kami bermain ABCan, memang sedikit kekanakan. Tapi itulah kenyataannya. Yang kalah memijat yang menang. Sungguh kebersamaan yang jarang kurasakan.
Saat bermain ABCan, kami dikejutkan dengan kedatangan Gubernur Jateng yang datang ke Hargo Dalem. Kami diminta untuk tenang, tapi berhubung kami agak “ndablek” dan masih muda, kami secara tidak sengaja tertawa keras saat ada teman kami yang terlihat konyol.
Lalu karena sudah malam, dan kami mulai kelelahan, akhirnya kami tidur. Aku , Mas Qitux, Mbak Denok, Mbak Ina, dan Mas Akbar satu sleeping bag, Mas Anjar memasukan tasnya kedalam tas agar hangat. Seperti halnya di pos II, kami susah tidur.
Tengah malam Cak Tajab memasakkan kami  mie instan. Tengah malam kami makan. Lau kami mencoba kembali tidur. Tengah malam aku membangunkan Mbak Gobez untuk buang air kecil. Saat itu kami pergi keluar berdua. Dan kabut sedang tidak turun malam itu. Jadi pemandangan dibawah terlihat sangat jelas. Hamparan langit yang bertahtakan bintang-bintang angkasa, lampu-lampu kota. Sepeti kapal Titanic.
Lalu kami kembali ke pondokan dan mencoba tidur. Pagi akhirnya tiba. Aku dan Mas Wardan mengobrol, kami bercerita tentang semalam(kami beda pondokan). Ternyata Mas Wardana sempat ke Pasar Setan. Dia bercerita dengan begitu asyiknya sehingga aku penasaran dengan Pasar Setan.
Akhirnya aku dan beberapa orang pergi mengunjunginya. Disana kami sempat bertemu dengan beberapa pendaki. Ada kejadian lucu. Aku tidak tahu kenapa orang itu, tetapi dia mendekatiku dan berkata “Mbak, aku punya uang satu ribu loh..” aku hanya bengong. Tidak mengerti apa maksudnya.
Saat di Pasar Setan kami tidak boleh mengambil gambar. Gambarannya ada batu-batu bertumpuk yang sangat rapi susunannya. Sebenarnya tempat itu sekali. Dengan sentuhan mistis. Karena harus segera sarapan kami semua kembali ke pondokan.
Tiba disana kami sarapan, untung ada Cak Tajab yang  memasak untuk kami. Ada mie, sarden, nugget, nasi , sop, dll. Setelah sarapan kami beres-beres.
Lalu kami berpamitan pada  seorang Mbah  yang menunggu Hargo Dalem. Lalu kami melanjutkan perjalanan untuk turun. Pada saat perjalan turun aku dan Mas Wardana menemukan sebuah jurang yang cukup dalam. Dan karena banyak sesaji dan dupa, mungkin tempat itu sering digunakan untuk ritual-ritual khusus masyarakat setempat.

Lalu kami lanjutkan perjalanan kami. Sepanjang jalan kami mengobrol, bercanda. Aku bersama Mas Wildan, Reka, Mas Wardana, dan beberapa Mas Armopala berjalan agak belakang. Ada seorang teman Mas Wardana yang punya tawa khas nan aneh. Setiap dia tertawa aku selalu ikut tertawa, bukan karena apa, tetapi karena tawanya sangat lucu.
Tiba-tiba saja teman Mas Wardana tertawa dengan suara khasnya. Aku menoleh kebelakang, lalu terawa. Tiba-tiba saja kakiku tergelincir kebawah, tubuhku ikut oleng, aku berusaha menahan tubuhku agar tidak jatuh dengan kaki, tapi malah kakiku yang kiri  keseleo. Aku berteriak kesakitan. Rasanya mau nangis saat itu. Rasanya sungguh tak tertahankan, saat itu langsung saja Mas Wardana meluruskan kakiku, karena sakit sekali aku berteriak sangat kencang, tak terasa air mataku keluar.
Aku sangat panic, bagaimana kalau aku pulang kerumah dalam keadaan pincang? Apa yang harus aku jelaskan kepada Bapak dan Ibu? Bagaimana ini? Aku sangat panik. Lalu Mas Wardana membawakan tasku. Aku sedikit tidak enak karena seharusnya itu bebanku. Lalu Mas Somat membuatkan aku tongkat dari batang pohon yang sudah patah, aku berjalan terpincang pincang. Kaki ku sakit sekali. Sampai di pos III kami beristirahat.
Seorang pendaki menawariku counterpainnya. Lalu aku mengoleskannya ke kakiku yang keseleo, lumayan mengurangi rasa sakitnya. Setelah berterima kasih kami melanjutkan perjalanan. Jalanku sudah agak mendingan. Aku meminta kembali tasku kepada Mas Wardana(malu dilihat pendaki lain). Lalu kami melanjutkan perjalanan. Di pos II, teman-teman yang baik menungguku, disana mereka berfoto, sementara Cak Tajab membenahi kakiku. Katanya ini Cuma kepelicuk, sembuhnya cepat gak sampai satu hari. Untunglah. Alhamdulilah. Aku lega sekali saat itu. Setelah dibenahi, aku sudah bisa berjalan agak normal.
Aku lebih banyak diam. Lalu setelah lewat pos I. aku dan Mas Wardana jalan bersama, kami membicarkan soal sepak bola dan “pacar”nya Mas Wardana. Lama setelah itu gerbang Cemoro Sewu terlihat di depan mata. Aku senang sekali. Karena begitu banyak pengalaman yang telah aku dapat selama di Gunung Lawu. Puncak pertamaku, tapi bukan yang terakhir.
Kami berfoto di depan gerbang Cemoro Sewu.

Setelah itu kami mandi dan makan. Kami menggu bus charteran kami, aku membeli beberapa stiker sebagai kenang-kenangan.

Setelah itu bus datang membawa kami pulang. Sempat di tengah jalan kami terjebak macet. Tapi  Kami pulang dengan senang, membawa cerita kami masing-masing. Itulah cerita puncak pertamaku tapi bukan yang terakhir. Dan terima kasih Tuhan, Engkau memberikan nikmatMu pada kami dan melindungi kami dari kami pergi sampai kami pulang kerumah masing-masing dengan tubuh lelah tapi hati gembira.




No comments:

Post a Comment