Tuesday, July 9, 2013

CAPTURE HEART 2




BAB 2

Mimpiku selalu diisi dengan hal-hal fantasi, negeri fantasi, saangat anak-anak. Tapi entah ada penyakit apa, orang itu hadir di mimpiku. Tapi kenyataan itu cukup membuatku senang. Ada yang berbeda kalau begitu. Syukurlah. Bangun jam 6 pagi untuk remaja perempuan seusiaku adalah hal yang paling malas di dunia. tapi untunglah aku tidak pernah terlambat datang ke sekolah. Tapi jam 5 aku sudah terjaga, bangun dengan jantung berdebar-debar. Perasaan tegang tapi menyenangkan. Perutku seperti terlilit tapi dengan sensasi yang berbeda. Seperti hari ini adalah hari yang berbeda dari kebanyakan hari.

Kursi di pojokan seolah jadi singgasanaku. Sebenarnya bebas memilih bangku dimanapaun kita suka,  tapi entah kenapa teman-temanku seolah itu sudah menjadi tempatku. Satu kebaikan mereka. Sebelum masuk kelas aku sempat ke kantin untuk membeli makanan ringan, aku tidak sempat sarapan tadi karena perutku rasanya tak mampu menelan makanan karena rasa melilit yang aneh.
Tapi aku harus mengisi setidaknya sedikitlah daripada kelaparan. Roti bakar cokelat dan sekotak susu kurasa lebih dari cukup mengganjal perut. Aku makan dalam diam, dari belakang kudengar Arista “Ratu Gosip” kelas sedang bergosip dengan beberapa teman perempuan yang lain.
“Ada bule hari ini jadi teman baru kita.” Katanya berapi-api.
“Sumber dari mana Arista?” Kella menyahut, dahinya berkerut penasaran.
“Papa kemarin bilang ke aku,” Arista adalah putri kepala sekolah, entah kenapa aku merasa bapak kepala sekolah adalah orang yang jarang bicara tapi lebih banyak bertindak, berbalik dengan putri semata wayangnya.
“Ganteng gak?” Ambrin menyahut.
“Kaya?” kali ini Diana yang bertanya.
“Sempurna!!!!!!” Arista berkata dengan gaya dramatis. Aku muak melihat gaya itu. Tapi Arista bukan orang yang sepenuhnya jelek. Ia orang yang sangat peduli kepada sesama, karena dia, 6 anak yang hamper putus sekolah berhasil menyambung sekolah karena ia membujuk ayahnya. Sayang, sifat baiknya tertutup oleh tampilan luarnya yang suka bergosip.
Ingat bule, aku jadi tersenyum-senyum sendiri. Ingat Jason. Lalu kerumunan di depan kelas terbubarkan oleh langkah guru yang masuk. Wali kelas kami, seorang guru Kewarganegaraan. Seorang lelaki paruh baya dengan tampang-aku sudah bosan dengan kelakuan orang-orang ini- berkumis, dan kurus. Ia tersenyum, di sampingnya ada seorang laki-laki asing. Orang luar negeri sepertinya, mungkinkah dia yang dibicarakan anak-anak? Tunggu dulu.. dia kan.. Jason!!!!! Berdiri di depan, menebarkan senyumnya. Berbicara dengan Bahasa kami.
Ini sungguh suatu kebetulan yang ajaib. Rasa terkejutku berubah menjadi perasaan yang aneh. Jantungku berdebar kencang, rasa melilit di perutku juga mulai terasa melilit.
“Senang bisa berkenalan dengan kalian. Aku harap kalian bisa membantu tahunku di Indonesia.” Ia tersenyum lebar.
“Kamu bisa duduk dimanapun, tapi mengingat kursi yang masih kosong hanya yang dibelakang.” Ia tersenyum kecut. Dan kursi yang dimaksud wali kelas kami itu disebelahku!
“Terima kasih, Pak.”
Ia menuju kemari dan semakin dekat. Aku mencoba tersenyum, tapi yang keluar adalah senyum terjelek menurutku. Dan.. Tatapannya penuh tuduhan dan tajam, nyaliku yang sudah ciut menjadi lebih menciut hingga hamper dikatakan aku tidak punya nyali lagi. Aku memalingkan wajahku, menghadap ke buku. Perasaan pertamaku adalah kecewa, tentu saja. Kemudian berubah menjadi marah dan kesal. Bagaimana mungkin dia berlaku sangat sopan dan ramah kepadaku tiba-tiba ketika menjadi dekat denganku bisa bersikap sekurang ajar ini? Dia piker siapa? Apa mungkin karena dia populer di sini? Anak baru saja sudah berani buat ulah. Menyebalkan!
Awas saja, aku tidak akan menemuimu di taman nanti sore. Aku sudah terlalu muak. Mungkin dia memang sempurna, tapi tetap saja. Dia harus diberi pelajaran, aku tidak akan menerima undangan yang awalnya membuatku melambung tinggi seperti itu.
Sepanjang jam pelajaran aku sangat amat tidak bisa berkonsentrasi, antara jantungku yang tak mau berhenti berdebar dan rasa frustasi dengan sifat Jason yang sedingin es. Semoga cepat jam istirahat. Aku tidak tahan dengan atmosfer ini. Doaku terkabbul. 5 mneit kemudian bel istirahat berbunyi.
Aku segera kabur dari kelas, kubawa buku cerita “abunawas” ku lalu pergi ke sudut sekolah yang sepi. Yang katanya banyak hantu di tempat ini. Dan anehnya ini terasa nyaman. Letaknya di gedung lama sekolah, di lantai 2. Disini aku bisa melihat seluruh sisi sekolah. Dengan semilir angin yang sejuk. Koperasi sekolah adalah sisi terdekat yang bisa kulihat. Tempat ini masih belum ramai, dan kulihat si Jason pergi kesana. Ia berbicara dengan anak OSIS yang menjaga koperasi. Kelihatannya ia membutuhkan dasi dan beberapa alat tulis juga buku-buku. Entah dari mana, tiba-tiba para gadis sudah berada di belakangnya. Memandangnya dengan tatapan memuja. Memuakkan sekali. Kulihat Jason diam saja dilihat dengan buas oleh gadis-gadis itu.
Saat sedang mengamati Jason, entah punya ilmu telepati atau apa. Dia mengangkat kepalanya ke arah ku. Ia berjalan santai, menujuku. Ada maunya orang ini? “Jangan lupa. Nanti sore. Aku tahu kamu akan mangkir kali ini.”
“Memang kalau aku mangkir kenapa?” tanyaku menantang.
“Aku akan bilang ke Ibumu kalau anak perempuan kecilnya sudah mulai bermain cinta denganku.” Ia tersenyum mengejek. Bagaimana mungkin dia bisa tahu kalau ibu melarangku berpacaran?
“Baiklah. Tapi jelaskan nanti.”
“Jelaskan apa?” tanyanya bingung.
“Nanti saja. Pergilah dari sini sebelum gadis-gadis itu menggangguku.” Aku mendorong tubuhnya menjauh.
Ia hanya mengangkat bahu, tidak tersenyum tidak apa. Saat itu bel terdengar. Aku masih malas bangkit dari tempat nyaman ini. Tapi nanti guru akan menghukumku kalau aku datang terlambat. Hari berlalu dengan cepat. Tiba-tiba saja sudah jam setengah 4. Aku memutuskan memakai celana pendek yang sering kupakai untuk main di taman dan kaos bergambar Batman.
Aku membawa kameraku. Jason sudah menunggu di kursi taman itu. Aku rasa aku terlambat. “Maaf, sepertinya kau datang duluan. Aku terlambat. Apakah kau menunggku terlalu lama?”
“Tidak, duduklah. Aku sudah membawa formulirnya.” Jason mengeluarkan sebuah tab. Ia memilah dokumen dan membuka yang ada formulir kontes foto itu. “Kurasa mengirim via email akan lebih cepat daripada via kantor pos.” ia tersenyum hangat.
“Terserah kamu. Oh iya, kenapa sikap kamu berbeda sekali dengan di sekolah?” aku bertanya dengan tampang seperti orang bodoh.
“Rahasia.” Ia terkekeh. Aku mendesah kesal.
“Ayo kita isi saja formulirnya.” Ujarku kesal. Ia menanyakan nama lengkap lamat, dan beberapa perntanyaan untuk diisi di formulir itu. Kemudia ia mengirimnya kesebuah alamat. Saat aku hendak  melihat kemana formulir akan dikirim ia menyembunyikannya dari pandanganku sambil tersenyum mengejek.
“Kau sudah memindahkan semua foto ke dalam memory ini?”
“Sudah. Ada beberapa fotomu disitu.”
“Kenapa?”
“Kenapa apanya?” lagi-lagi aku bertanya dengan bodohnya.
“Kenapa fotoku juga kamu masukkan?”
“Itu foto terbaikku.” Ungkapku jujur.
Dia hanya mengangkat alisnya yang tebal.” Kubawa dulu ya. Sampai bertemu di sekolah. Ngomong-ngomong, tidakkah kau tahu?”
“Apa?”
“Kamu terlihat cantik meski dengan baju anehmu itu.”
Kali ini pipiku dibuat memerah. Aku tak mampu berkata-kata. Ia tertawa lalu melangkah pergi. Dasar Jason sialan.
Esok hari di sekolah berjalan seperti biasanya. Jason juga berubah menjadi sosok yang dingin dan kaku. Karena hari ini para guru akan rapat di SMA lain kami pulang pagi. Sesuatu yang tidak terlalu kusukai karena waktu bersama Jason lebih sedikit. Aku mengemasi barangku, aku memutuskan ke gedung sekolah lama. Mau menikmati angina segar. Sekolah sudah sangat sepi. Tiba-tiba Casandra. Ratu kecantikan sekolah dan beberapa temannya yang bergaya modis sekali menghadang jalanku. Mereka terkenal sekali, bahkan satu sekolah di kota mengenalnya. Tapi biasanya yang berurusan dengannya adalah orang yang mau bunuh diri.
Aku santai saja karena aku merasa tidak bermasalah dengannya. Tapi entah kenapa tatapan membunuhnya tajam sekali. Tapi aku biasa saja. Mungkin sehariannya memangs seperti itu.
“Bereskan.” Satu kata itu sangat ajaib, teman-temannya yang badannya tinggi dan langsing langsung mengunci tubuhku. Mereka menyeretku seolah aku mainan saja. Aku berteriak-teriak. Tapi teriakanku hanyalah seperti erangan lemah. Mereka menyumpal mulutku dengan sapu tangan. Sampai ujung bibirku terasa mau sobek. Aku hanya bisa mengalirkan air mata. Tanpa suara. Mungkin jika satu lawan satu aku bisa membuat mereka lebam-lebam, tapi 1 lawan 6? Mati saja.
“Berhenti!” suara itu. Suara dingin dengan nada mengancam. Tapi itu membuatku merasa aman dan lega.
“Kenapa, Jason. Perempuan aneh ini mengganggu usahku mendapatkanmu.” Ujar Casandra. Ia menggelayuti lengan Jason. Tapi laki-laki itu menpiskannya, kemudian menghampiri gadis-gadis yang memitingku. Akhirnya pegangan mereka terlepas. Saat Jason belbalik menghadap Casandra. Salah seorang temannya memotong rambut bagian belakangku.
Saat aku tersadar bahwa rambut panjangku hasil memanjangkan bertahun-tahun di gunting. Aku shock. Jason melihat wajahku pucat , menggendongku di punggungnya. Aku hanya diam, rambut indahku…
Rasanya mau mati saja. Tapi aku bukan orang yang mdah menangis. Aku hanya terdiam di belakang punggunngnya. Membiarkan pikiranku melayang. Aku sedang tidak ingin memikirkan apa-apa saat ini. Ia menurunkanku di depan kamar mandi perempuan.
“Rapikan dulu rambutmu.” Jason menyerahkan gunting kecil kepadaku.”Tunggu aku disini, barangku ada yang ketinggalan.” Lalu Jason berbalik pergi. Aku menatap bayangan wajahku di cermin. Rambutku berantakan, rambut bergelombangku, rusak dibagian kanan hingga belakang, Devina sungguh kejam. Aku melihat gunting yang diberikan Jason masih ada di tanganku. Belum kugunakan. Sedikit sakit hatiku saat memotong rata rambutku. Hingga akhirnya sebuah rambut pendek seleher yang ada.
Sudahlah, mau bagaimana lagi? Aku hanya tinggal menunggu rambut ini tumbuh lagi. Toh aku akan terlihat sama saja. Sama tidak cantiknya. Ada sebuah sapu di sudut. Aku mengambilnya dan membersihkan sisa-sisa rambutku.
“Tidak buruk, kau terlihat lebih seperti… anak-anak.” Ia tersenyum. Kapan dia berada disitu?
“Hm.. Aku mau pulang. Kau?”
“Ya, kita pulang bersama.”
Pertama kali ini aku pulang ditemani seseorang. Karena terbiasa berjalan tanpa ada teman, rasanya agak canggung bagiku. Dan apa yang harus kujelaskan pada Ibu jika aku pulang bersama Jason? Kami sama sekali tidak berbicara. Jason kembali memasang wajah datarnya. Karena SMA ku tidak mengenakan seragam putih abu-abu pada umumnya, jadi penampilan Jason dengan kemeja putih dan celana panjang hitam seragam sekolah kami membuatnya terlihat keren, walaupun dia pakai karung goni saja sudah membuat para gadis histeris.
Untungnya ibuku tidak sedang di depan rumah. “Sampai sini saja.” Aku berhenti di depannya. “Terima Kasih sudah menolongku. Tapi kelakuan mereka aneh. Aku rasa aku tidak pernah punya urusan dengan mereka. Kenapa tiba-tiba mereka berbuat jahat padaku?”
“Entahlah, sekarang kau tidak perlu takut pada mereka.”
“Aku tidak takut.” Bantahku.
“Sampai jumpa di sekolah.” Ia meninggalkanku dengan langkah yang anggun namun tegas. Ia benar-benar teman yang baik. Kurasa aku harus bisa menyesuaikan sikapnya yang berubah ubah. Dan jantungku berdebar lagi. Kali ini dengan cara yang membuatku nyaman dan tersenyum.

No comments:

Post a Comment